Berita Utama

Rudal PL 17 China: Ancaman Baru bagi Pesawat AWACS dengan Jangkauan Lebih Baik dari AIM 120 AMRAAM

Tiongkok baru-baru ini dilaporkan telah mengoperasikan rudal udara-ke-udara jarak ultra-jauh terbarunya, PL-17, yang memiliki capaian jangkauan yang jauh melampaui rudal standar Amerika Serikat, AIM-120 AMRAAM.

Sesuai dengan data teknis dan analisis intelijen sumber terbuka terbaru pada Januari 2026, rudal PL-17 memiliki jangkauan tembak maksimum hingga 400 kilometer, secara signifikan lebih unggul dibandingkan AIM-120D-3 AMRAAM milik AS yang hanya mampu menjangkau target dalam jarak sekitar 160 hingga 180 kilometer.

Kemunculan PL-17, yang terintegrasi dengan jet tempur J-16, menandai pergeseran keseimbangan kekuatan udara di kawasan Indo-Pasifik. Dengan jangkauan yang mencapai dua kali lipat dibandingkan rudal utama Pentagon saat ini, PL-17 dirancang khusus sebagai “AWACS Killer” atau pembunuh pesawat peringatan dini, yang memaksa militer AS untuk mendesain ulang strategi pertahanan udara serta mempercepat pengembangan rudal tandingan seperti AIM-260 JATM.

Spesifikasi Teknis dan Keunggulan PL-17

Rudal PL-17, yang dalam kode NATO disebut CH-AA-12 Auger, memiliki dimensi yang jauh lebih besar dibandingkan pendahulunya, PL-15, serta AIM-120 buatan AS. Rudal ini memiliki panjang sekitar 6 meter, jauh lebih panjang dari AMRAAM yang hanya sekitar 3,7 meter. Ukuran yang besar ini memungkinkan PL-17 untuk mengangkut lebih banyak bahan bakar padat, sehingga dapat mencapai kecepatan lebih dari Mach 4 (sekitar 4.900 km/jam).

Menurut laporan dari Zona Perang dan Pertahanan JanePL-17 ditenagai oleh motor roket pulsa ganda yang memberikan dorongan tambahan pada fase terminal penerbangan.

Di samping itu, PL-17 dilengkapi dengan empat sirip kendali kecil dan nosel kendali vektor dorong, memungkinkan rudal ini tetap lincah meskipun beroperasi di lapisan atmosfer yang tipis saat mengejar target pada ketinggian tinggi.

Sistem pemandu rudal ini juga sangat canggih, memanfaatkan radar Array Aktif yang Dipindai Secara Elektronik (AESA) yang tahan terhadap gangguan elektronik. “Rudal ini tidak hanya bergantung pada radar internalnya, tetapi juga dapat menerima data target dari platform pihak ketiga seperti satelit atau pesawat intelijen melalui tautan data dua arah,” sebagaimana dikutip dari pertahanankeamananasia.com pada Sabtu (24/1).

Perbandingan Jangkauan: PL-17 vs AIM-120 AMRAAM

Perbedaan jangkauan antara kedua rudal ini menjadi aspek krusial dalam peta persaingan militer global. AIM-120 AMRAAM telah menjadi tulang punggung kekuatan udara NATO selama satu dekade terakhir, namun pengembangan varian terbarunya, AIM-120D-3, masih terhambat oleh batasan fisik ukuran rudal yang harus muat di ruang senjata internal jet siluman F-22 dan F-35.

Berbanding terbalik, Tiongkok memilih untuk memproduksi rudal besar yang dipasang secara eksternal oleh jet tempur non-siluman namun kuat seperti Shenyang J-16. Dengan jangkauan 400 km, pilot Tiongkok dapat meluncurkan serangan jauh sebelum jet tempur lawan berada dalam jarak tembak AMRAAM.

Situasi ini menciptakan apa yang disebut analis militer sebagai “celah jangkauan” yang membahayakan aset pendukung udara AS.

Target utama PL-17 bukanlah jet tempur yang gesit, melainkan aset bernilai tinggi seperti pesawat pengisi bahan bakar udara dan pesawat AWACS (E-3 Sentry atau E-7 Wedgetail). Tanpa dukungan dari pesawat-pesawat ini, armada jet tempur siluman AS akan kehilangan “mata” dan jangkauan operasional di teater pertempuran yang luas seperti Laut China Selatan.

Respon Amerika Serikat: Proyek AIM-260 JATM

Menyadari ketertinggalan dalam hal jangkauan rudal udara, Pentagon telah menempatkan program AIM-260 Rudal Taktis Tingkat Lanjut Gabungan (JATM) sebagai prioritas tinggi.

Rudal yang dikembangkan oleh Lockheed Martin ini bertujuan untuk menggantikan AMRAAM dan memiliki jangkauan yang setara atau bahkan melebihi PL-15 milik Tiongkok (sekitar 200-300 km), meskipun rincinya masih sangat dirahasiakan.

Selain AIM-260, Angkatan Laut AS juga telah dengan cepat mengadaptasi rudal pertahanan udara SM-6 menjadi rudal udara-ke-udara jarak jauh yang dikenal dengan nama AIM-174B. Langkah ini diambil sebagai solusi jangka pendek untuk mengimbangi munculnya PL-17.

AIM-174B memiliki ukuran besar yang serupa dengan PL-17 dan mampu menjangkau target pada jarak ratusan kilometer, tetapi hanya dapat dibawa oleh pesawat besar seperti F/A-18E/F Super Hornet.

“Pertarungan udara di masa depan tidak lagi hanya tentang duel satu lawan satu, tapi siapa yang memiliki ‘rantai pembunuh’ paling panjang. Kehadiran PL-17 memaksa kami untuk berpikir di luar batas AMRAAM,” ungkap seorang analis pertahanan di IISS sebagaimana dikutip dari laporan asiatimes.com pada Maret 2025.

Implikasi Strategis di Indo-Pasifik

Kabar mengenai PL-17 juga berdampak pada stabilitas regional. Tiongkok telah menurunkan rudal ini di skuadron jet tempur J-16 yang kerap beroperasi di dekat Selat Taiwan dan Laut China Selatan.

Hal ini mengirimkan pesan jelas kepada sekutu AS di kawasan bahwa zona aman bagi pesawat pendukung militer semakin bergeser ke belakang.

Keunggulan teknologi rudal Tiongkok ini tidak hanya terbatas pada jangkauan, tetapi juga pada taktik “network-centric warfare”. PL-17 dapat diluncurkan dari jet J-16 dengan radar aktif dimatikan untuk menghindari deteksi, sementara data target dikirim melalui radar jet tempur siluman J-20 yang beroperasi lebih dekat dengan musuh.

Secara keseluruhan, PL-17 merupakan bukti nyata bahwa Tiongkok telah melampaui paradigma teknologi militer Barat dalam hal rudal udara-ke-udara jarak jauh. Sementara AIM-260 belum sepenuhnya operasional dalam jumlah besar, supremasi udara di langit Pasifik akan terus ditandai oleh ancaman rudal raksasa pembunuh pesawat intai dari Beijing.

➡️ Baca Juga: Dibekali GPU Intel Arc, Acer Umumkan Laptop Gaming Terbaru untuk Pasar Indonesia.

➡️ Baca Juga: Analisis Pembatalan Everwild & Perfect Dark: Apa Dampaknya Masa Depan Xbox?

Related Articles

Back to top button