Alasan Iran Menolak Kesepakatan dengan AS dan Dampaknya pada Hubungan Internasional

Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Baqer Qalibaf, mengungkapkan bahwa Washington tidak berhasil memperoleh kepercayaan Teheran dalam negosiasi yang berlangsung di Pakistan, yang ditujukan untuk mengakhiri agresi yang dilakukan AS dan Israel terhadap Republik Islam Iran secara menyeluruh.
Pernyataan ini disampaikan melalui cuitan di X pada hari Minggu waktu setempat, setelah perwakilan Iran dan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan meskipun telah melakukan perundingan selama lebih dari 20 jam di Islamabad.
Qalibaf menegaskan bahwa sebelum perundingan dimulai, Iran telah menunjukkan itikad baik dan komitmen yang kuat. Namun, ia menyoroti bahwa Iran tidak dapat mempercayai pihak lawan akibat pengalaman pahit dari dua perang yang dipaksakan oleh AS dan Israel.
“Rekan-rekan saya telah menyampaikan berbagai inisiatif yang konstruktif, namun pada akhirnya, pihak lawan tidak berhasil membangun kepercayaan dengan delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini. Amerika Serikat telah memahami logika dan prinsip kami, dan kini mereka harus memutuskan apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan kami atau tidak,” ujarnya yang dikutip dari presstv.ir pada Senin, 13 April 2026.
Ia juga menekankan bahwa Iran menjalankan strategi diplomasi yang kuat bersamaan dengan kekuatan militernya untuk melindungi hak-hak rakyatnya.
Menurut Qalibaf, Teheran tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apapun untuk memperkuat hasil dari 40 hari pertahanan nasional yang telah dilakukan oleh Iran.
Qalibaf juga memberikan apresiasi kepada Pakistan sebagai negara sahabat yang berperan penting dalam memfasilitasi proses perundingan antara Iran dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada rakyat Iran yang dianggapnya heroik karena telah menggelar demonstrasi besar-besaran di jalanan untuk mendukung tim perunding, mengikuti arahan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei.
Setelah 40 hari agresi yang berkelanjutan dari AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari, Amerika Serikat secara resmi menerima proposal 10 poin yang diajukan oleh Iran pada hari Rabu sebagai langkah awal menuju gencatan senjata permanen.
Selama periode konflik tersebut, angkatan bersenjata Iran melancarkan 100 gelombang serangan balasan yang dianggap berhasil, yang menargetkan lokasi-lokasi sensitif dan strategis milik Amerika Serikat dan Israel di seluruh kawasan.
Mereka juga mengambil langkah untuk memblokade Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang terkait dengan pihak lawan serta sekutunya, sebagai upaya untuk menjaga keamanan di perairan strategis tersebut.
➡️ Baca Juga: Polisi Ungkap Temuan Zat Kimia Terkait Ledakan Masjid di Jember
➡️ Baca Juga: Mantan Menlu Iran Menjadi Target Serangan AS-Israel, Istri Meninggal Dunia




