Berita Utama

BNPB Perpanjang Modifikasi Cuaca dan Tambah Armada Antisipasi Puncak Musim Hujan di Jabodetabek

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 3 Februari 2026. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan memengaruhi beberapa wilayah.

Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, menjelaskan bahwa perpanjangan ini bersifat fleksibel dan akan disesuaikan dengan situasi serta kondisi ancaman cuaca yang terjadi di lapangan.

“Rencana perpanjangan hingga 3 Februari 2026 ini akan tetap mempertimbangkan situasi dan kondisi ancaman cuaca yang ada,” ungkap Suharyanto kepada wartawan pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Penambahan Armada dan Distribusi Pesawat

Saat ini, BNPB telah mengerahkan empat pesawat untuk mendukung pelaksanaan operasi. Modifikasi cuaca di wilayah Jabodetabek sendiri telah dimulai sejak 12 Januari 2026 dengan satu pesawat yang diterjunkan.

Suharyanto menjelaskan bahwa penambahan armada terjadi pada 23 Januari 2026 berdasarkan rekomendasi dari BMKG terkait peningkatan ancaman cuaca ekstrem. Tiga pesawat tambahan dipindahkan dari lokasi OMC sebelumnya di tiga provinsi di Sumatera.

“Dengan demikian, total armada BNPB menjadi empat pesawat yang akan terus beroperasi hingga 31 Januari 2026, dan akan dievaluasi sesuai dengan keadaan ancaman cuaca, apakah akan dihentikan atau diperpanjang,” jelas Suharyanto.

Pembagian armada udara dilakukan di dua lokasi, yaitu dua pesawat di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, dan dua pesawat lainnya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Selain armada BNPB, BPBD DKI juga menambahkan satu pesawat Cassa milik TNI AU yang mulai beroperasi pada Sabtu pagi.

Data Operasional dan Bahan Semai

Menurut data operasional, total penerbangan yang telah dilakukan mencapai 152 sortie. Dalam operasi ini, bahan semai yang digunakan adalah 83,2 ton NaCl dan 49 ton CaO.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyatakan bahwa tindakan ini terbukti efektif dalam memengaruhi kondisi cuaca di lapangan. Ia melaporkan penurunan intensitas curah hujan di wilayah Jabodetabek sebesar 35 persen.

Puncak Musim Hujan pada Bulan Februari

BMKG memperingatkan bahwa ancaman cuaca ekstrem masih akan mewarnai wilayah Jabodetabek sepanjang bulan Februari, berdasarkan data historis terkait siklus cuaca di daerah tersebut.

“Secara klimatologis, berdasarkan data historis, puncak musim hujan di wilayah Jabodetabek terjadi pada bulan Februari,” jelas Budi Harsoyo.

Informasi mengenai perpanjangan operasi modifikasi cuaca dan data teknis mengenai pengerahan armada ini telah disampaikan oleh Kepala BNPB Letjen Suharyanto dan Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo.

➡️ Baca Juga: Air Cooler Noctua NH D15 Ternyata Setara AIO 240mm Tapi Harganya Lebih Murah 40 Persen

➡️ Baca Juga: 7 Fakta Tokenisasi Aset Fisik yang Bikin Kamu Bisa Beli 1cm Tanah

Related Articles

Back to top button