Site icon QNews

Evaluasi MBG Diperlukan untuk Meminimalisir Dampak Ekonomi Kerakyatan di Tengah Gejolak Geopolitik

Evaluasi MBG Diperlukan untuk Meminimalisir Dampak Ekonomi Kerakyatan di Tengah Gejolak Geopolitik

Jakarta – Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM-SI) telah mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Koordinator BEM-SI, Muzammil Ihsan, menegaskan bahwa program MBG yang telah berjalan selama hampir satu tahun ini belum menunjukkan dampak yang signifikan terhadap peningkatan ekonomi kerakyatan.

“MBG memiliki tujuan yang baik. Namun, dalam pelaksanaannya, banyak kejanggalan yang terjadi. Ketika harga ditetapkan pada angka 15 ribu, justru terjadi penekanan harga. Sehingga, dampak positif terhadap ekonomi kerakyatan tidak terwujud,” ungkap Muzammil dalam pernyataannya pada Selasa, 31 Maret 2026.

Meskipun demikian, ia menekankan bahwa di tengah gejolak geopolitik global yang terjadi saat ini, program MBG seharusnya tidak dihentikan, melainkan harus tetap dilanjutkan. Situasi ini seharusnya dijadikan momentum untuk memperbaiki orientasi ekonomi serta pengelolaan sumber daya alam di tingkat nasional.

“Presiden harus bertanggung jawab terhadap peluncuran program ini. Jika sudah dilaksanakan, jangan sampai dibatalkan. Namun, perlu ada evaluasi jika terjadi penurunan ekonomi,” tegasnya.

Menurutnya, jika program MBG dibatalkan, dampak negatif yang dirasakan masyarakat akan semakin besar. “Apabila program MBG dihentikan, maka akan banyak tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan,” tambah Muzammil.

Lebih lanjut, ia juga mendesak agar ke depan program MBG dapat melibatkan lebih banyak pihak berkepentingan dari sektor pendidikan. Pasalnya, banyak dana yang dialokasikan untuk program MBG berasal dari realokasi anggaran APBN sektor pendidikan.

“MBG berkaitan erat dengan pendidikan, namun dampaknya sangat kurang. Mereka yang terlibat di sektor pendidikan hanya dijadikan objek. Dapur-dapur MBG seharusnya melibatkan guru dan institusi pendidikan. Kami berfokus pada pentingnya sektor pendidikan dalam program MBG,” jelasnya.

Sementara itu, di tengah tantangan yang dihadapi akibat gejolak geopolitik global, Adidaya Institute mendorong pemerintah untuk merombak model program MBG dari sekadar pemberian makanan menjadi sebuah platform ekonomi pangan yang terintegrasi.

Ekonom dari Adidaya Institute, Bramastyo B. Prastowo, menilai bahwa model pemberian makanan saat ini sudah tidak lagi memadai karena hanya berfokus pada distribusi makanan dan pengeluaran anggaran.

“MBG terlalu simplistik jika hanya dibiarkan sebagai program distribusi makanan. Program ini harus ditransformasikan menjadi mesin ekonomi pangan untuk kepentingan nasional,” tegasnya.

➡️ Baca Juga: <p>“Apple Watch Memperkenalkan Rute Peta Offline untuk Aplikasi Strava dan Komoot”</p>

➡️ Baca Juga: <p>“Apple Creator Studio Diluncurkan Hari Ini: Membuka Nilai Luar Biasa bagi Para Kreator”</p>

Exit mobile version