Kabar buruk kembali menghampiri dunia sepakbola Indonesia. Fadly Alberto, pemain Bhayangkara FC U-20, mengejutkan publik setelah melakukan tindakan yang sangat kontroversial dalam pertandingan melawan Dewa United pada ajang Elite Pro Academy U-20 yang berlangsung di Stadion Citarum, Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu, 19 April 2026.
Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan Fadly Alberto, mantan pemain Timnas Indonesia U-17, melakukan tendangan kungfu yang mengarah kepada pemain Mohamad Ridwan. Akibat dari aksi tersebut, Ridwan mengalami luka serius di wajahnya dan dilaporkan juga mengalami dislokasi bahu sebagai dampak dari insiden itu.
Insiden ini bukanlah yang pertama kali terjadi dalam sepakbola Indonesia. Di tahun 2026 saja, terdapat dua kejadian serupa yang mencuat di permukaan. Salah satunya adalah aksi brutal dari pemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi Gimnastiar, yang menendang dada pemain Perseta, Firman Nugraha.
Hilmi melakukan tindakan kekerasan tersebut dalam pertandingan Liga 4 Jawa Timur yang berlangsung di Gelora Bangkalan, Madura, pada 5 Januari 2026. Tak lama setelah insiden itu, klubnya langsung mengambil tindakan tegas dengan memecat Hilmi, mengingat perbuatannya yang mencoreng reputasi sepakbola.
Reaksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI pun datang dengan cepat, sehari setelah kejadian tersebut. Ketua Komdis PSSI, Umar Husin, merekomendasikan agar Hilmi dilarang beraktivitas dalam sepakbola seumur hidup sebagai sanksi atas tindakannya.
Bencana bagi Hilmi semakin parah ketika Komdis PSSI Jawa Timur segera menindaklanjuti rekomendasi dari Komdis PSSI pusat. Ia dikenakan sanksi larangan seumur hidup dari sepakbola nasional, meskipun Hilmi diberikan kesempatan untuk mengajukan banding terhadap keputusan tersebut.
Pada hari yang sama saat hukuman dijatuhkan kepada Hilmi, insiden lain kembali terjadi di Liga 4 Yogyakarta. Seorang pemain KAFI Jogja, Dwi Pilihanto, melakukan tendangan ke arah kepala pemain UAD FC, Amirul Mutaqqin, di Lapangan Sitimulyo, Bantul, pada 6 Januari 2026.
Tendangan Dwi langsung mencuri perhatian publik, terutama karena isu tindakan kasar dalam sepakbola sedang hangat diperbincangkan. Komdis PSSI Yogyakarta juga tidak tinggal diam dan memberikan sanksi larangan beraktivitas dalam sepakbola seumur hidup bagi Dwi.
Kedua insiden ini terjadi dalam ajang Liga 4 fase Provinsi (Piala Gubernur). Saat ini, klub-klub yang berhasil lolos dari fase regional (Piala Bupati/Walikota) sedang berjuang untuk mendapatkan tiket ke fase nasional. Kini, pertanyaan yang muncul adalah, apakah Fadly Alberto akan menerima sanksi yang serupa?
➡️ Baca Juga: <p>“Apple Watch Memperluas Pemberitahuan Hipertensi ke Tujuh Negara Baru”</p>
➡️ Baca Juga: PC Mini 3L Pakai Mobo NAS J4125 + GTX 1650 LP, Emulasi PS3 60fps

