Jakarta – Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran selama dua minggu. Kesepakatan ini juga mencakup pembukaan kembali jalur strategis di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.
Berdasarkan laporan terbaru, minyak acuan global Brent crude mengalami penurunan sekitar 13 persen, mencapai level US$94,80 per barel, yang setara dengan Rp1.611.600 (dengan asumsi kurs Rp17.000). Di sisi lain, harga minyak yang diperdagangkan di pasar Amerika Serikat turun lebih dari 15 persen, menjadi US$95,75 atau sekitar Rp1.627.750 per barel.
Penurunan harga ini terjadi setelah sebelumnya harga energi meloncat tajam akibat gangguan pasokan yang terjadi di Timur Tengah. Konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu sempat mendorong harga minyak melambung tinggi, mencapai angka di atas US$70 atau sekitar Rp1.190.000 per barel.
Gencatan senjata ini berawal ketika Amerika Serikat menyatakan akan menghentikan serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat bahwa Teheran harus membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan dengan aman. Iran kemudian menyatakan kesediaannya untuk menghentikan konflik apabila serangan terhadap wilayahnya dihentikan, sembari membuka jalur pelayaran di selat tersebut.
Kesepakatan ini segera meredakan kekhawatiran di pasar mengenai gangguan distribusi energi secara global. Selat Hormuz merupakan jalur vital untuk pengiriman minyak dunia, dan setiap ketegangan atau konflik di kawasan ini berpotensi berdampak besar terhadap harga energi.
Sebelumnya, Iran mengeluarkan ancaman untuk menyerang kapal-kapal yang melintasi selat tersebut sebagai respons terhadap serangan udara dari AS dan Israel. Ancaman ini menyebabkan banyak kapal tanker terjebak dan memicu lonjakan harga minyak serta gas di pasar internasional.
Meskipun harga minyak mengalami penurunan, para analis menyatakan bahwa penurunan ini belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kondisi pasar yang stabil. Saat ini, harga minyak tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum terjadinya konflik, yang menunjukkan bahwa pasar masih menyimpan kekhawatiran terhadap stabilitas jangka panjang.
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan kerusakan infrastruktur energi di kawasan tersebut. Serangan yang terjadi selama konflik telah menargetkan berbagai fasilitas minyak dan industri di wilayah yang kaya akan sumber daya tersebut.
Perbaikan infrastruktur yang rusak diperkirakan akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Rystad Energy memperkirakan bahwa total biaya pemulihan bisa mencapai lebih dari US$25 miliar atau sekitar Rp425 triliun, dengan proses perbaikan yang dapat berlangsung selama beberapa tahun ke depan.
➡️ Baca Juga: Akhirnya Bertemu! Perjuangan Denada Luluhkan Hati Ressa Rizky Berbuah Manis
➡️ Baca Juga: XL Ultra 5G+ Diperkenalkan oleh XLSmart, Target Ekspansi Jaringan ke 88 Kota hingga 2026

