Site icon QNews

IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Berpotensi Rebound Sementara Bursa Asia Melemah

IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Berpotensi Rebound Sementara Bursa Asia Melemah

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan yang signifikan pada pembukaan perdagangan hari Selasa, 10 Maret 2026, dengan lonjakan 126 poin atau sekitar 1,72 persen, mengantarkan indeks ke level 7.463.

Fanny Suherman, Kepala Riset Ritel di BNI Sekuritas, menyampaikan proyeksi bahwa IHSG memiliki peluang untuk mengalami rebound pada sesi perdagangan hari ini.

“IHSG berpotensi untuk kembali menguat hingga mencapai level 7.500, namun investor perlu tetap waspada karena ada kemungkinan terjadinya koreksi lebih lanjut,” ungkap Fanny dalam laporan riset harian yang dirilis pada hari yang sama.

Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia terlihat seragam mengalami penurunan pada perdagangan sebelumnya. Indeks Nikkei 225 dari Jepang mengalami penurunan tajam sebesar 5,2 persen, diikuti oleh Hang Seng dari Hong Kong yang melemah 1,4 persen, serta Taiex dari Taiwan yang turun 4,4 persen.

Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan mengalami penurunan yang cukup dramatis sebesar 6 persen, sementara ASX 200 di Australia tergerus 3 persen. Indeks FTSE Straits Times juga menunjukkan penurunan sebesar 1,9 persen, sedangkan FTSE Malay KLCI mengalami penurunan lebih dalam, yaitu 2,6 persen.

Penurunan yang cukup signifikan ini, terutama pada indeks Nikkei 225 dan Kospi yang masing-masing merosot lebih dari 5 persen, menunjukkan aksi jual yang meluas di seluruh kawasan. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga minyak yang mencapai US$105 per barel.

Namun, tidak semua saham terpengaruh negatif. Saham Softbank Group Corp justru mengalami peningkatan sebesar 8,2 persen. Sementara itu, saham-saham yang terkait dengan industri semikonduktor, seperti Advantes dan Lasertec, masing-masing mengalami penurunan lebih dari 11 persen dan 9 persen.

Saham Samsung Electronics mengalami penurunan yang cukup tajam, yakni 7,8 persen, sedangkan saham SK Hynix, yang juga beroperasi di sektor chip, mengalami kerugian yang lebih besar, mencapai 9,5 persen.

Di sisi lain, harga minyak Brent melonjak menjadi US$100,82 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate juga mengalami peningkatan hingga US$102,70 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah beberapa produsen minyak utama di Timur Tengah, termasuk Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab, memutuskan untuk memangkas produksi mereka menyusul penutupan Selat Hormuz.

“Level support IHSG saat ini berada di kisaran 7.200 hingga 7.300, sementara level resistensinya berada di antara 7.400 dan 7.500,” tambahnya.

Sebagai informasi tambahan, indeks-indeks saham di Wall Street mengalami penguatan pada penutupan perdagangan kemarin. Hal ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang memberikan sinyal bahwa konflik bersenjata dengan Iran mungkin segera berakhir. Indeks S&P 500 naik sebesar 0,83 persen, Dow Jones Industrial Average bertambah 0,5 persen, dan Nasdaq Composite melonjak hingga 1,38 persen.

Sentimen positif di pasar meningkat setelah Trump menyatakan dalam wawancara dengan CBS News bahwa konflik tersebut hampir rampung. “Perang ini pada dasarnya sudah sangat selesai,” ujar Trump, menambahkan bahwa kekuatan militer Iran saat ini telah melemah, termasuk di sektor angkatan laut, komunikasi, dan angkatan udara.

➡️ Baca Juga: 3 Setting Tersembunyi iPhone untuk Baterai yang Lebih Tahan Lama: Coba Sekarang!

➡️ Baca Juga: 6 Kesalahan Setting Mouse DPI yang Sering Dilakukan Gamer E-Sports

Exit mobile version