Site icon QNews

Insentif Berkurang, Mobil Listrik China Menghadapi Tantangan di Pasar Domestik

Insentif Berkurang, Mobil Listrik China Menghadapi Tantangan di Pasar Domestik

Industri kendaraan listrik di China kini menghadapi tantangan serius di pasar domestiknya. Beberapa produsen terkemuka seperti Geely, BYD, dan Chery melaporkan adanya penurunan laba pada kuartal pertama tahun 2026, yang menunjukkan melemahnya permintaan di dalam negeri.

Geely, yang merupakan produsen mobil terbesar kedua di China setelah BYD, mengalami penurunan laba bersih sebesar 27 persen dibandingkan tahun lalu, dengan total mencapai 4,17 miliar yuan pada periode Januari hingga Maret 2026. Hal ini terjadi meskipun perusahaan mencatatkan lonjakan pendapatan sebesar 15 persen, yang mencapai angka 83,8 miliar yuan, mencatatkan rekor tertinggi untuk kuartal pertama.

Manajemen Geely menyatakan bahwa kemerosotan di pasar domestik adalah faktor utama penyebab penurunan tersebut. Setelah pengurangan insentif pajak pembelian kendaraan, permintaan belum sepenuhnya pulih. Sebelumnya, konsumen di China menikmati pembebasan pajak sebesar 10 persen, namun saat ini pajak tersebut mulai dikenakan kembali sebesar 5 persen, dengan rencana untuk kembali ke level penuh pada tahun 2028.

Di samping itu, Geely juga mengidentifikasi kerugian dari fluktuasi nilai tukar sebagai faktor yang mempengaruhi kinerja laba mereka. Dari sisi penjualan, volume kendaraan yang terjual hanya meningkat tipis sekitar 1 persen, mencapai 700.940 unit pada kuartal pertama.

Situasi yang serupa juga dialami oleh BYD, produsen kendaraan listrik terbesar di China. Mereka melaporkan bahwa laba bersih mereka merosot hingga 55 persen, dengan total mencapai 4,09 miliar yuan, di saat pendapatan mereka juga mengalami penurunan sebesar 11,8 persen. Hal yang sama juga terjadi pada Chery, yang mencatatkan penurunan laba bersih sekitar 10 persen, disertai dengan penurunan pendapatan sebesar 3,4 persen.

Data dari asosiasi otomotif China menunjukkan bahwa penjualan mobil domestik pada kuartal pertama tahun 2026 mengalami penurunan sekitar 20 persen, dengan total mencapai 4,82 juta unit. Penjualan kendaraan listrik bahkan mengalami penurunan yang lebih signifikan, turun 23,8 persen menjadi sekitar 2 juta unit.

Penurunan ini terjadi setelah adanya lonjakan pembelian pada akhir tahun 2025, ketika konsumen memanfaatkan insentif yang masih berlaku. Begitu kebijakan tersebut mulai dipangkas, permintaan pun ikut melemah secara drastis.

Di tengah tekanan yang dihadapi di pasar domestik, pabrikan mulai beralih ke ekspor sebagai alternatif untuk pertumbuhan. Proyeksi dari Morgan Stanley menunjukkan bahwa ekspor mobil China dapat meningkat hingga 88 persen pada tahun 2026, seiring dengan usaha produsen untuk mengalihkan fokus ke pasar luar negeri yang dianggap lebih menjanjikan.

Geely menargetkan untuk mengekspor hingga 750.000 unit kendaraan tahun ini, yang merupakan peningkatan signifikan dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, BYD menargetkan penjualan luar negeri mencapai 1,5 juta unit. Produsen lain seperti Leapmotor juga sedang memperluas ekspansi global dengan dukungan dari perusahaan otomotif besar, Stellantis.

➡️ Baca Juga: Zayn Malik Dirawat di Rumah Sakit, Penyebab Penyakitnya Masih Belum Diketahui

➡️ Baca Juga: Mikel Arteta: Final Carabao Cup Penguat Mental Arsenal di Perburuan Trofi Musim Ini

Exit mobile version