Site icon QNews

Kamboja Menutup 700 Jaringan Penipuan Online dengan 3.400 Tersangka dari 29 Negara

Kamboja Menutup 700 Jaringan Penipuan Online dengan 3.400 Tersangka dari 29 Negara

Kamboja telah berhasil menutup lebih dari 700 jaringan penipuan online dalam rangka operasi penertiban yang berlangsung selama satu tahun terakhir. Dalam upaya ini, sekitar 30.000 tersangka ditangkap, termasuk sejumlah pejabat pemerintah yang berposisi tinggi.

Negara yang terletak di Asia Tenggara ini telah menjadi pusat bagi berbagai sindikat kejahatan siber, yang terkenal dengan skema penipuan seperti hubungan romantis palsu dan investasi aset kripto. Para pelaku penipuan, baik yang terlibat secara sukarela maupun yang diperjualbelikan, telah berhasil menipu pengguna internet di berbagai belahan dunia.

Di tengah tekanan internasional dari negara-negara seperti Amerika Serikat dan China, pihak berwenang Kamboja mengumumkan bahwa mereka sedang mengambil tindakan tegas terhadap industri penipuan ini.

Dalam sebuah pernyataan resmi, pemerintah menyatakan bahwa lebih dari 700 kompleks terkait penipuan telah dibersihkan dan selama setahun terakhir, sebanyak 58.266 warga asing telah dideportasi dari Kamboja.

Lebih jauh, hampir 30.000 tersangka telah ditangkap, termasuk 15 pejabat tinggi serta anggota penegak hukum. Dari total tersebut, lebih dari 3.400 tersangka berasal dari 29 negara, termasuk China, Vietnam, Australia, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Thailand, dan kini mereka sedang menunggu persidangan.

Pemerintah Kamboja mengungkapkan bahwa meskipun lokasi-lokasi besar telah sepenuhnya dibersihkan, kelompok-kelompok kriminal kini telah beradaptasi dengan mengubah taktik mereka menjadi aktivitas yang lebih kecil dan terdesentralisasi. Mereka kini bersembunyi di berbagai tempat seperti wisma tamu, kondominium, rumah sewa, kendaraan, dan kedai kopi.

Pada Januari 2026, Kamboja mengekstradisi Chen Zhi, seorang yang diduga sebagai kepala sindikat penipuan, yang juga merupakan ketua dari Prince Holding Group, sebuah konglomerat bernilai miliaran dolar asal Kamboja. Proses ekstradisi ini dilakukan setelah Chen dikenakan sanksi oleh pemerintah AS dan Inggris.

Empat bulan setelahnya, tepatnya pada bulan April, Kamboja juga mengekstradisi Li Xiong, mantan ketua Huione Group yang berasal dari China. Pemerintah Beijing menuduh Xiong terlibat secara signifikan dalam sindikat perjudian dan penipuan berskala besar yang bersifat transnasional.

➡️ Baca Juga: Harga Bitcoin Anjlok ke $81.000, Likuidasi Mencapai $1,68 Miliar – Apa Penyebabnya?

➡️ Baca Juga: Even If This Love Disappears Tonight: Adaptasi Novel Populer Jepang Tayang di Netflix Awal Februari

Exit mobile version