Site icon QNews

Kisah Pelangi di Mars: Film Inspiratif Tentang Manusia Pertama Lahir di Luar Bumi dan Pesan Lingkungan

Kisah Pelangi di Mars: Film Inspiratif Tentang Manusia Pertama Lahir di Luar Bumi dan Pesan Lingkungan

Film fiksi ilmiah keluarga yang berjudul “Pelangi di Mars” akan hadir untuk menyapa penonton Indonesia pada momen Lebaran 2026. Film ini mengangkat premis yang menarik tentang manusia pertama yang lahir di luar bumi. Di bawah arahan sutradara Upie Guava, proyek ini tidak hanya menawarkan petualangan luar angkasa, tetapi juga menyampaikan pesan penting mengenai masalah lingkungan, khususnya krisis air yang mengancam di masa depan.

Dengan latar tahun 2090, cerita berfokus pada Pelangi, seorang anak yang merupakan manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars. Dalam hidupnya di planet merah yang ekstrem, Pelangi ditemani oleh beberapa robot cerdas yang membantunya menjalani berbagai tantangan.

Pesan Lingkungan dan Ancaman Krisis Air

Sutradara Upie Guava menjelaskan bahwa film “Pelangi di Mars” membawa pesan yang kuat tentang perlunya menjaga ekosistem Bumi. Ia mengibaratkan pembuatan film ini sebagai usaha menanam pohon untuk generasi mendatang, dengan tujuan utama menginspirasi masyarakat untuk mencegah krisis air.

“Pohon itu kita tanam hari ini, agar anak cucu kita bisa menikmati buahnya,” kata Upie Guava dalam konferensi pers di Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (13/2/2026).

Melalui film ini, Upie ingin memberikan ruang imajinasi bagi anak-anak agar mereka percaya bahwa tidak ada batasan yang tidak bisa dilewati. Dalam cerita ini, anak-anak ditempatkan sebagai pahlawan yang siap menghadapi tantangan di masa depan.

Kolaborasi Lima Robot dari Berbagai Negara

Dalam petualangannya di Mars, Pelangi akan ditemani oleh lima robot dari koloni yang berbeda-beda. Mahakarya Pictures secara resmi memperkenalkan para pengisi suara yang akan menghidupkan karakter robot tersebut:

  • Kimchi (Koloni Korea): Diperankan oleh Vanya Rivani, Kimchi adalah robot cerewet yang hobi melakukan vlog.
  • Sulil (Koloni India): Diperankan oleh Dimitri Arditya, yang belajar aksen bicara India untuk mendalami karakternya.
  • Petya (Koloni Rusia): Diperankan oleh Gilang Dirga, robot pintar yang merasa tersaingi oleh kecerdasan robot dari Indonesia.
  • Yoman (Koloni Eropa): Diperankan oleh Kristo Immanuel, karakter robot dengan kepribadian santai.
  • Batik (Koloni Indonesia): Diperankan oleh Bimo Kusumo, yang berfungsi sebagai pendamping dan pelindung bagi Pelangi.

Bimo Kusumo menyatakan bahwa perannya sebagai robot Batik memiliki makna personal, karena ia berfungsi sebagai sosok ayah bagi Pelangi. Sementara itu, Gilang Dirga mengungkapkan bahwa berperan sebagai pengisi suara merupakan pencapaian baru yang menantang, karena ia harus mengatur tempo bicara agar selaras dengan visual animasi yang sudah ada.

Penggunaan Teknologi XR dan Tantangan Akting

Film “Pelangi di Mars” menerapkan format hibridamenggabungkan aksi langsung (aksi langsung) dengan animasi. Produksinya menggunakan teknologi Realitas yang Diperluas (XR) yang melibatkan proses kerja rumit untuk menciptakan visual masa depan yang meyakinkan.

Aktris muda Messi Gusti, yang memerankan Pelangi, berbagi pengalamannya dengan teknologi ini. Ia dituntut untuk memiliki imajinasi yang tinggi, karena banyak elemen adegan yang tidak hadir secara fisik di lokasi syuting.

“Dalam XR, aku harus membayangkan beberapa properti yang tidak ada di set. Sebelum syuting dengan XR, ada sesi penangkapan gerakjadi aku sudah harus menghafalkan posisi lawan main dan robot saat berdialog,” jelas Messi Gusti.

Ambisi Pengembangan Kekayaan Intelektual Lokal

Produser Dendi Reynando mengungkapkan bahwa proyek ini dirancang sebagai kekayaan intelektual yang berkelanjutan. Tim produksi telah menyiapkan cetak biru untuk pengembangan semesta film ini, termasuk kemungkinan sekuel, prekuel, dan spin-off di masa depan.

Dendi berharap karakter dalam film ini bisa diwujudkan dalam berbagai produk fisik seperti komik, pakaian, tas, dan figur aksi. Ini bertujuan agar kekayaan intelektual lokal dapat bersaing dengan semesta sinematik dunia yang populer.

“Harapannya, ini lebih dari sekadar film. Setelah ditayangkan, kami berharap karakter dalam film ini dapat hidup dalam bentuk produk lainnya. Mungkin kita akan melihat anak-anak kita menonton film ini dan membeli bonekanya,” ungkap Dendi.

Film karya Mahakarya Pictures dan MBK Production ini juga didukung oleh PT Produksi Film Negara (Persero) atau PFN, A&Z Films, Studio DossGuavaXR, dan RANS. “Pelangi di Mars” direncanakan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026.

➡️ Baca Juga: K-Pop Fans Protest Billie Eilishs Grammy Win: Golden Deserves SOTY 2026

➡️ Baca Juga: <p>AirTag 2 vs AirTag: Temukan Semua Fitur Baru dan Peningkatan</p>

Exit mobile version