bisnis

Krisis Energi Parah, Negara Miskin Habiskan Triliunan Rupiah untuk BBM

Krisis energi global semakin parah, memberikan tekanan yang signifikan bagi negara-negara berpenghasilan rendah. Total biaya impor bahan bakar fosil yang mereka tanggung mencapai US$155 miliar per tahun, yang setara dengan Rp2.635 triliun (berdasarkan kurs Rp17.000).

Menurut data dari Ember, beban berat ini dirasakan oleh 74 negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah yang tergabung dalam Climate Vulnerable Forum (CVF). Kelompok ini mencakup lebih dari 1,7 miliar penduduk, yang sangat rentan terhadap dampak krisis energi.

John Raymond Hanger, mantan pejabat pemerintah AS yang berfokus pada isu energi dan lingkungan, mengungkapkan bahwa kondisi ini sangat mencengangkan. “Ini adalah beban yang sangat berat, membuat satu miliar orang tidak memiliki akses listrik atau hanya mendapatkan listrik yang sangat tidak stabil,” ujarnya, seperti yang dikutip dari Gulf News.

Di 19 negara, biaya impor bahan bakar fosil bahkan menyumbang lebih dari 50 persen defisit perdagangan. Negara-negara seperti Tanzania, Sri Lanka, Tunisia, Maroko, Pakistan, dan Bangladesh merupakan yang paling merasakan dampak dari krisis ini.

Apabila harga minyak mencapai US$100 per barel, diperkirakan beban biaya impor akan meningkat lebih dari US$30 miliar, yang setara dengan Rp510 triliun pada tahun 2026.

Krisis energi ini juga berdampak pada akses terhadap sumber energi. Sekitar 700 juta orang di seluruh dunia masih belum memiliki akses listrik, dengan mayoritas berada di negara-negara anggota CVF. Selain itu, sekitar 500 juta orang mengalami pemadaman listrik yang terjadi secara rutin.

Di negara-negara tersebut, listrik hanya memenuhi sekitar 16 persen dari total kebutuhan energi. Banyak rumah tangga masih bergantung pada biomassa untuk kebutuhan memasak dan pemanasan, yang berkontribusi pada sekitar 2,9 juta kematian dini setiap tahun akibat polusi udara dalam ruangan.

Hanger juga menyoroti bahwa ketergantungan pada energi fosil merupakan masalah yang sangat serius. “Bahan bakar fosil telah mengecewakan mereka,” tegasnya.

Laporan dari Ember menunjukkan bahwa teknologi energi listrik modern, seperti tenaga surya dan baterai, semakin terjangkau. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, harga berbagai teknologi listrik telah mengalami penurunan antara 30 persen hingga 95 persen.

Sejumlah negara mulai meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Namibia menghasilkan sekitar 35 persen dari total konsumsi listriknya dari tenaga surya, sementara Togo mencapai 18 persen. Penggunaan kendaraan listrik roda dua juga meningkat pesat di Nepal, mencapai 70 persen, dan di Sri Lanka sebesar 64 persen.

Selama periode 2020 hingga 2025, negara-negara yang tergabung dalam CVF mengimpor panel surya dengan kapasitas total mencapai 138 gigawatt dari China. Kapasitas ini mampu memproduksi 218 terawatt jam listrik per tahun dan mengurangi ketergantungan pada impor energi, serta menghasilkan penghematan sekitar US$20 miliar atau Rp340 triliun untuk LNG dan US$42 miliar atau Rp714 triliun untuk diesel.

➡️ Baca Juga: Gaya Hidup Sehat untuk Meningkatkan Efisiensi Aktivitas Harian Anda

➡️ Baca Juga: 9 Fakta AR 2025 yang Bikin Kamu Lihat Hantu di Rumah Sendiri

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k