Laporan NFP Jumat Penentu Pergerakan Emas

Harga emas diperkirakan akan terus naik, mungkin mencapai USD3000 sebelum Natal. Foto: Quotient Fund Indonesia

Qnews.co.id, JAKARTA – Analis Quotient Fund Indonesia Regen Lee mengingatkan bahwa harga emas (GLD) berada pada titik kritis di awal Oktober, dengan laporan ketenagakerjaan yang akan datang berpotensi mempengaruhi pergerakan harga jangka menengah.

Emas melonjak lebih dari 5,2% bulan lalu, mencapai resistensi teknis baru di sekitar USD2.600. Michael Boutros menyoroti pentingnya level ini dan potensi penembusan menuju USD2.643.

Bacaan Lainnya

“Meskipun reli terhenti di zona infleksi kunci, penembusan di atas kisaran mingguan dapat memicu kenaikan lebih lanjut menuju USD2.700 dan seterusnya,” kata Regen kepada Qnews.co.id, Kamis (3/10).

Boutros menyarankan untuk memperhatikan laporan nonfarm payrolls (NFP) dan penutupan mingguan untuk petunjuk lebih lanjut, dengan harga emas terakhir diperdagangkan pada USD2.652,41 per ons, turun 0,42% pada sesi tersebut.

Sementara itu harga perak (SLV) naik mendekati USD31,50 karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang mendorong arus masuk aset safe haven.

“Iran meluncurkan lebih dari 200 rudal balistik ke Israel, memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas,” ujarnya.

Meskipun harga perak didukung oleh stimulus fiskal dan moneter Tiongkok, penurunan aktivitas manufaktur di negara tersebut membatasi kenaikan lebih lanjut. Suku bunga tinggi yang berkepanjangan juga mengurangi daya tarik perak sebagai aset non-imbal hasil.

Pada hari Rabu (2/10), harga perak diperdagangkan di sekitar USD31,50 per troy ounce, dengan pasar memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan November.

Sementara itu, harga minyak mentah (USO)
naik lebih dari 2% pada Rabu (2/10) pagi setelah Iran meluncurkan 200 rudal ke Israel, memicu bentrokan antara pasukan Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan.

“Ketegangan meningkat setelah pembunuhan pemimpin Hizbullah dan Hamas oleh Israel,” katanya.

Regen menambahkan, “Minyak mentah Brent naik 1,56% menjadi USD74,71 per barel, sementara WTI terkerek1,66% menjadi USD70,99.”

Jika Israel menargetkan infrastruktur minyak dan gas Iran sebagai pembalasan, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi, mengirimkan gelombang kejut melalui pasar minyak.


*Quotient Fund Indonesia adalah perusahaan consulting keuangan global, berkantor pusat di Quotient Center Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dan dapat dihubungi di hotline 0811-1094-489

Pos terkait

Tinggalkan Balasan