Berita

Mahasiswa Undip Diduga Dianiaya Oleh Puluhan Teman dan Senior, Mengalami Gegar Otak dan Trauma Berat

Seorang mahasiswa bernama Arnendo (20) yang menempuh pendidikan di Jurusan Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (Undip), diduga menjadi korban penganiayaan oleh sekitar 30 orang rekan angkatan dan seniornya. Arnendo, yang berasal dari Jambu, Kabupaten Semarang, mengalami luka serius dan trauma psikologis yang mendalam, kasus ini sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian setempat.

Kuasa hukum Arnendo, Zainal Petir, menyatakan bahwa insiden penganiayaan tersebut terjadi pada malam tanggal 15 November 2025 dan sudah resmi dilaporkan ke aparat kepolisian. Namun, hingga saat ini, belum ada perkembangan signifikan terkait kasus tersebut.

Keluarga Arnendo juga meminta bantuan hukum dan mendampingi korban untuk mendatangi Polrestabes Semarang guna menanyakan perkembangan kasus yang menimpa anak mereka.

Zainal Petir menjelaskan kronologi peristiwa yang terjadi. Korban awalnya diundang oleh seorang rekannya bernama A untuk berkumpul di sebuah kamar kos dengan alasan membahas acara musik kampus. Namun, setibanya di lokasi sekitar pukul 22.03 WIB, Arnendo justru dikerumuni oleh banyak orang di halaman kos dan dipaksa untuk mengakui bahwa ia telah melakukan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi.

Menurut penjelasan Zainal, Arnendo dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa kejadian yang dimaksud hanyalah sebuah kesalahpahaman saat ia mengajak mahasiswi tersebut untuk makan bersama dengan tim sukses pemilihan ketua himpunan. Diduga, salah satu pelaku yang memiliki ketertarikan pada mahasiswi itu merasa tidak terima dan memicu tindakan pengeroyokan terhadap Arnendo.

Proses penganiayaan berlangsung selama lebih dari lima jam, mulai pukul 23.00 WIB hingga menjelang subuh. Selama waktu tersebut, Arnendo diduga dipukul secara bergantian dengan berbagai benda, termasuk batang kayu, gantungan baju, dan bahkan disabet dengan ikat pinggang.

Zainal juga mengungkapkan bahwa selain tindakan fisik, pelaku melakukan berbagai tindakan tidak manusiawi lainnya. Mereka menyulut tubuh Arnendo dengan rokok, mengoleskan krim panas pada area kemaluan, memaksa mencukur rambut dan alisnya, serta mengikat leher korban menggunakan ikat pinggang.

Akibat penganiayaan tersebut, Arnendo harus menjalani perawatan intensif di dua rumah sakit, yaitu RS Banyumanik 2 dan RS Bina Kasih Ambarawa, selama beberapa hari.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Arnendo didiagnosis menderita patah tulang hidung, gegar otak, serta gangguan pada saraf mata. Selain mengalami cacat fisik, mahasiswa yang kini duduk di semester 4 itu terpaksa harus mengambil cuti kuliah akibat trauma yang dialaminya.

Orang tua Arnendo, yang berprofesi sebagai penjual nasi goreng, telah melaporkan kasus penganiayaan ini ke pihak berwajib sejak tanggal 16 November 2025. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam di kalangan masyarakat, serta menyoroti pentingnya perlindungan dan penanganan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.

➡️ Baca Juga: <p>“Penawaran Eksklusif: Hemat $119 untuk AirPods Max, $173 untuk Apple Watch SE 3, dan Diskon 50% Trail Loop”</p>

➡️ Baca Juga: Mobil SUV Ini Memilih Teknologi Hybrid dan Bensin Daripada Listrik untuk Efisiensi Optimal

Related Articles

Back to top button
slot qris slot qris