Berita

Menhan China: Ancaman Tegas ke AS Terkait Blokade Selat Hormuz yang Tidak Perlu Campur Tangan

Menteri Pertahanan Tiongkok, Laksamana Dong Jun, telah memberikan peringatan yang tegas mengenai potensi blokade maritim terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk menjaga kelangsungan perdagangan energi antara Beijing dan Teheran.

Dalam pernyataannya yang dilansir oleh berbagai media internasional, Dong Jun menekankan pentingnya agar hubungan ekonomi antara China dan Iran tidak diintervensi oleh pihak ketiga. Ia juga menyatakan bahwa kapal-kapal China akan terus melintas di Selat Hormuz untuk keperluan perdagangan.

“China menjalin kerja sama ekonomi yang erat dengan Iran dan mengharapkan agar tidak ada negara lain yang mencampuri urusan ini,” tegas Dong Jun. Ia menambahkan bahwa Selat Hormuz akan tetap menjadi jalur penting bagi pelayaran China.

Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap pernyataan Presiden AS yang sebelumnya mengklaim bahwa negara seperti China dan Jepang “tidak memiliki kemauan atau kemampuan untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka.”

Menanggapi klaim tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menegaskan bahwa jalur tersebut sudah dapat dilalui sebelum terjadinya konflik. “Selat Hormuz tetap terbuka sebelum terjadinya ketegangan, dan pihak-pihak lain yang memulai perang lah yang membatasi akses jalur ini,” ujarnya.

Pendekatan Beijing ini sejalan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Tiongkok sebelumnya, yang memperingatkan bahwa setiap usaha untuk memblokade jalur strategis ini akan melanggar hukum internasional dan dapat mengganggu stabilitas pasar energi global.

Para analis energi menilai bahwa Selat Hormuz sangat penting bagi Tiongkok. Sekitar 40% dari total impor minyak dan 30% dari impor gas alam cair China melewati jalur ini. Ketergantungan ini mendorong Beijing untuk melakukan upaya diplomatik lebih lanjut guna mendorong gencatan senjata dan memastikan keamanan pelayaran.

Di sisi lain, beberapa laporan media menyebutkan bahwa potensi blokade maritim terhadap Iran juga terkait dengan upaya untuk membatasi transaksi energi yang menggunakan yuan Tiongkok. Langkah ini dianggap sebagai tantangan terhadap sistem “petrodolar” dan sebagai cara untuk menghindari sanksi dari AS.

Sementara itu, laporan dari The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa lebih dari 15 kapal perang telah dikerahkan ke kawasan tersebut, dan operasi blokade dikabarkan telah dimulai beberapa jam sebelumnya.

Perkembangan ini muncul setelah Presiden AS, usai pertemuan dengan Pakistan, mengumumkan rencana untuk memberlakukan blokade maritim terhadap Iran di Selat Hormuz. Langkah ini dianggap berpotensi meningkatkan ketegangan di salah satu jalur energi paling vital di dunia.

➡️ Baca Juga: Krisis Energi Mengancam, Singapura Siapkan Langkah Strategis untuk Warga

➡️ Baca Juga: Persipura Jayapura Signs Williams Lugo in Bursa Transfer Liga 2 After Parting Ways with Matheus Silva

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k