Site icon QNews

Stok BBM Menipis Akibat Perang Iran, Thailand dan Vietnam Sarankan Pekerja WFH

Stok BBM Menipis Akibat Perang Iran, Thailand dan Vietnam Sarankan Pekerja WFH

Thailand dan Vietnam telah mengambil langkah-langkah darurat seiring dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berimbas pada lonjakan harga minyak global. Kebijakan ini termasuk pembatasan aktivitas pekerja dan upaya penghematan energi di seluruh sektor.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, baru-baru ini mengumumkan kebijakan penghematan energi untuk instansi pemerintah dan perusahaan milik negara. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak yang disebabkan oleh situasi konflik di Timur Tengah.

Sebagai bagian dari strategi penghematan, Thailand menerapkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) bagi pegawai negeri sipil. Langkah ini dianggap perlu untuk mengatasi dampak negatif dari lonjakan harga minyak yang dapat mengancam keamanan energi di negara tersebut.

“PM Thailand telah memberikan instruksi kepada berbagai instansi pemerintah dan perusahaan untuk segera menerapkan kebijakan yang memungkinkan karyawan bekerja dari rumah, asalkan tidak mengganggu layanan publik,” ungkap Wakil Juru Bicara Pemerintah Thailand, Lalida Periswiwatana, dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Bangkok.

Pemerintah Thailand juga menangguhkan semua perjalanan dinas luar negeri yang dibiayai oleh negara, termasuk untuk keperluan pendidikan dan magang. Semua kegiatan tersebut kini harus dilakukan di dalam negeri, sesuai dengan kebijakan penghematan yang diterapkan.

Saat ini, pemerintah Thailand tengah merancang program penghematan energi yang lebih luas untuk periode mendatang, termasuk penutupan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dari pukul 22.00 hingga 06.00 waktu setempat.

“Timur Tengah merupakan penghasil energi terbesar di dunia, dan ketegangan yang terjadi di wilayah tersebut menyebabkan fluktuasi harga minyak dan energi secara berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah memprioritaskan penanganan krisis energi yang mengancam ini,” tambah juru bicara tersebut.

Selain itu, pemerintah Thailand sedang mengevaluasi proposal dari kementerian energi untuk memperkenalkan langkah-langkah penghematan yang lebih ketat jika situasi terus memburuk.

Kebutuhan rata-rata harian Thailand untuk produk minyak saat ini mencapai sekitar 32,7 juta galon. Per 5 Maret, total cadangan minyak di negara tersebut tercatat sekitar 2,1 miliar galon, yang sebagian besar bergantung pada impor minyak mentah, menurut Penjelasan Periswiwatana.

Kementerian Energi Thailand juga telah mengusulkan beberapa langkah konservatif untuk gedung perkantoran publik, seperti mengatur suhu pendingin udara pada 25-26 derajat Celsius, mendorong penggunaan pakaian lengan pendek alih-alih jas dan dasi, kecuali pada acara resmi, serta mengurangi konsumsi listrik secara keseluruhan.

➡️ Baca Juga: Arbeloa Komentar Soal Vinicius dan Carvajal Menjelang Pertandingan Real Madrid vs Rayo Vallecano

➡️ Baca Juga: HyperOS 4: Sistem Operasi Baru Xiaomi yang Berasal dari Luar MIUI

Exit mobile version