Hiburan

Surat untuk Masa Mudaku: Film Netflix Sim F Menggali Trauma Masa Kecil

Bagi banyak orang, panti asuhan sering kali dianggap sebagai akhir dari sebuah cita-cita besar. Namun, bagi Sim F, sutradara film Netflix terbaru Surat untuk Masa Mudakutempat tersebut justru menjadi ladang pembentukan ketangguhan mentalnya.

Sim F menunjukkan bahwa latar belakang masa kecil yang penuh dengan keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk mencapai salah satu kampus paling bergengsi di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB). Kisah hidupnya adalah narasi tentang ketahanan, kemampuan untuk bangkit dari titik terendah dan mengubah rasa kehilangan menjadi kekuatan kreatif.

Mimpi yang Hampir Terkubur di Debu Konstruksi

Perjalanan Sim F dimulai di sebuah panti asuhan, tempat ia menghabiskan masa remaja sejak usia 12 tahun. Di tengah kesunyian panti, ia belajar mandiri lebih awal dibandingkan anak-anak seusianya. Pilihan pendidikannya pada saat itu pun sangat pragmatis: Ia memilih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jurusan bangunan.

“Saat menempuh pendidikan di SMK jurusan bangunan, ia sempat berpikir bahwa masa depannya akan terbatas pada dunia konstruksi,” demikian kutipan dari jawapos.com, Kamis (29/1).

Bayangan bekerja di proyek bangunan atau menjadi teknisi lapangan adalah realitas yang paling masuk akal baginya pada waktu itu.

Akan tetapi, di balik seragam praktik SMK-nya, Sim F menyimpan kepekaan visual yang tajam. Ia tidak membiarkan garis-garis teknis bangunan membelenggu imajinasinya. Ketekunannya dalam mengasah bakat seni rupa membawanya pada peluang yang mengubah nasibnya: beasiswa penuh di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB.

Menembus Ganesha: Dari Garis Bangunan ke Kanvas Seni Rupa

Keberhasilan Sim F mendapatkan beasiswa di ITB bukan sekadar keberuntungan. Ini adalah hasil dari tekad yang gigih. Sebagai lulusan SMK Bangunan yang tinggal di panti asuhan, ia harus berjuang lebih keras untuk bersaing dengan lulusan SMA unggulan dari seluruh Indonesia.

Di ITB, Sim F tidak hanya belajar teknik seni rupa, tetapi juga cara mengolah perasaan. Latar belakangnya yang unik memberinya perspektif berbeda dalam melihat dunia. Ia mulai memahami bahwa seni, dan kemudian film, adalah medium terbaik untuk mengekspresikan emosi yang selama ini ia pendam di panti asuhan.

“Perjuangan Sim F dari seorang siswa SMK bangunan hingga berhasil meraih beasiswa di Fakultas Seni Rupa ITB dan menjadi sutradara ternama adalah contoh inspiratif,” tulis mediaindonesia.com dalam ulasan mengenai latar belakang sang sutradara pada Rabu (29/1).

Mengubah Trauma menjadi Surat untuk Remaja

Setelah sukses dengan film Susi Susanti: Love All (2019), Sim F kini kembali dengan karya yang sangat personal berjudul Surat untuk Masa Mudaku di Netflix. Meski film ini merupakan karya fiksi, inti ceritanya terinspirasi dari kenangan masa kecilnya di panti asuhan.

Tema utama yang ia angkat adalah tentang kehilangan dan bagaimana seseorang bisa berdamai dengannya. Sim F menyadari bahwa trauma masa kecil sering kali meninggalkan bekas yang dalam hingga dewasa, dan melalui film ini, ia seolah mengirimkan surat penguatan kepada dirinya sendiri di masa lalu.

“Film ini seperti berbicara kepada diri sendiri. Tentang bertahan dan berterima kasih karena sudah melalui masa sulit,” ujar Sim F menurut laporan dari antaranews.com, Kamis (15/1). Baginya, film ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah memoar emosional tentang anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua, tetapi tetap memiliki harapan.

Kekuatan Mimpi di Atas Segalanya

Kisah Sim F memberikan pesan yang kuat bagi mahasiswa dan generasi muda yang tengah berjuang melawan keterbatasan ekonomi atau latar belakang keluarga. Ia menunjukkan bahwa asal-usul seseorang tidak menentukan titik akhirnya.

Bagi audiens yang sedang berusaha meraih beasiswa atau merasa terkekang dalam pilihan jurusan yang dianggap “terbatas”, perjalanan Sim F adalah bukti nyata. Dari seorang anak panti yang belajar konstruksi, ia kini berdiri di panggung global sebagai salah satu sutradara paling diperhitungkan di Indonesia.

Resiliensi bukan berarti tidak mengalami jatuh, tetapi kemampuan untuk mengumpulkan serpihan luka dan menyusunnya menjadi sebuah karya yang menginspirasi dunia. Sim F telah melakukannya, dan melalui Surat untuk Masa Mudakuia mengajak kita semua untuk melakukan hal yang sama: bersyukur atas masa sulit yang telah membentuk diri kita saat ini.

➡️ Baca Juga: Pemerintah Alokasikan Rp 12,83 T untuk Diskon Transportasi dan Bansos Lebaran

➡️ Baca Juga: Bojan Hodak Senang Persib Bandung Raih Tiga Poin di Markas Persis Solo

Related Articles

Back to top button