Ustaz Maulana Menolak Menikah Lagi dan Memilih Puasa Nabi Idris Setelah Kehilangan Istri

Kehilangan pasangan hidup adalah pengalaman yang sangat berat dan menyakitkan bagi siapa saja. Ustaz Maulana memilih untuk menghadapi fase sulit ini dengan cara yang berbeda. Ia mengungkapkan bahwa ia lebih memilih melaksanakan puasa daripada kembali menikah setelah kepergian istrinya.
Dalam sebuah podcast bersama Gofar Hilman, Ustaz Maulana menjelaskan alasan di balik keputusannya tersebut sebagai upaya untuk menjaga diri. Ia berpendapat bahwa pria yang tidak memiliki pasangan harus memiliki kontrol diri yang kuat, terutama dalam mengendalikan nafsu, agar tidak terjerumus ke dalam perilaku yang tidak diinginkan.
“Sejak istri saya meninggal, saya menjalani puasa Nabi Idris. Karena, maaf, laki-laki tidak seharusnya mencari pasangan. Ibarat pedang yang kehilangan sarung, ia dapat melukai diri sendiri jika tidak dikendalikan, maka puasa adalah cara untuk mengatur diri,” jelas Ustaz Maulana yang dikutip dari kanal YouTube HAS Creative pada Jumat, 17 April 2026.
Ia menekankan bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga merupakan bentuk pengendalian diri secara menyeluruh. Baginya, puasa menjadi sarana untuk menjaga keseimbangan emosional serta menahan dorongan yang muncul saat seseorang hidup sendirian.
“Puasa itu berarti menahan dan mengendalikan diri. Oleh karena itu, saya memilih berpuasa sesuai dengan ajaran Nabi Idris,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Ustaz Maulana mengaitkan pilihannya dengan anjuran dalam ajaran Islam. Ia menyebutkan bahwa bagi seseorang yang belum mampu atau belum siap untuk menikah, dianjurkan untuk berpuasa sebagai cara menjaga diri.
“Dalam hadis disebutkan, ‘Menikahlah jika kau mampu, jika tidak, berpuasalah.’ Maka saya mengambil jalan puasa sebagai pilihan,” ungkapnya.
Keputusan ini mencerminkan bahwa setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi kehidupan setelah kehilangan pasangan. Bagi Ustaz Maulana, puasa menjadi sarana untuk tetap menjaga diri dan menjalani hidup dengan lebih terarah.
Dalam konteks kehilangan, banyak orang merasa terjebak dalam kesedihan dan kehilangan arah. Namun, dengan memilih jalan yang berbeda, Ustaz Maulana menunjukkan bahwa ada alternatif yang dapat diambil untuk menjaga diri dan kesehatan mental.
Bagi banyak orang, puasa bisa menjadi momen refleksi dan introspeksi. Ini adalah waktu untuk merenungkan nilai-nilai hidup dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Dalam pengalaman Ustaz Maulana, puasa memberikan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, yang pada gilirannya memberikan ketenangan jiwa.
Menghadapi kesedihan, sering kali kita merasa terisolasi dan sendirian. Namun, dengan melibatkan diri dalam praktik spiritual seperti puasa, seseorang dapat menemukan dukungan dan kekuatan dari iman. Ini adalah cara untuk tidak hanya menahan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi juga untuk menemukan makna baru dalam hidup.
Ustaz Maulana adalah contoh nyata dari seseorang yang memilih untuk hidup dalam kesadaran dan pengendalian diri. Dalam pandangannya, setiap orang memiliki perjalanan unik masing-masing dalam menghadapi kehilangan. Pilihan untuk tidak menikah lagi dan fokus pada puasa menunjukkan komitmennya terhadap prinsip yang diyakini.
Sikap Ustaz Maulana ini juga dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang yang sedang berjuang dengan perasaan kehilangan. Dengan menjalani puasa, mereka tidak hanya berusaha untuk menahan diri, tetapi juga berusaha untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Tentu saja, masyarakat perlu memahami bahwa proses berduka adalah hal yang sangat personal. Setiap individu berhak untuk memilih cara mereka sendiri dalam mengatasi kesedihan. Ustaz Maulana telah menunjukkan kepada kita bahwa ada nilai dalam pengendalian diri dan spiritualitas yang dalam.
Dengan memilih puasa sebagai jalan hidupnya setelah kehilangan, Ustaz Maulana tidak hanya menjaga diri dari hal-hal yang dapat merugikan, tetapi juga membangun kembali fondasi hidupnya dengan cara yang lebih positif. Ini adalah contoh bagaimana seseorang dapat bertransformasi dari kesedihan menjadi kekuatan, dan menemukan cara baru untuk melanjutkan kehidupan.
Dalam setiap langkahnya, Ustaz Maulana menunjukkan bahwa meski kehilangan dapat mengubah segalanya, pilihan untuk menjaga diri dan memperkuat iman adalah langkah yang tepat. Dalam dunia yang sering kali penuh dengan godaan, pengendalian diri menjadi kunci untuk hidup yang lebih sehat dan bermakna.
Dengan demikian, keputusan Ustaz Maulana untuk menolak menikah lagi dan memilih puasa Nabi Idris bukan hanya sebuah tindakan pribadi, tetapi juga sebuah pernyataan tentang pentingnya menjaga diri dan mengikuti ajaran agama. Dalam setiap keputusan yang diambil, ada pelajaran yang dapat diambil bagi kita semua tentang bagaimana menghadapi kehilangan dengan cara yang bijak dan penuh makna.
➡️ Baca Juga: Cuti Bersama Idul Fitri 2026 Resmi: ASN Nikmati Libur Tiga Hari
➡️ Baca Juga: Cara Cek Imei Hp Xiaomi Asli Atau Palsu Dengan Kode Rahasia Ini 3 Langkah Verifikasi




