Berita

Istri Netanyahu Dituduh Lakukan Kekerasan Verbal dan Perlakukan ART Secara Tidak Manusiawi

Seorang pekerja rumah tangga yang telah lama melayani keluarga Perdana Menteri Israel kini mengajukan tuntutan hukum terhadap Sara Netanyahu. Pada tanggal 25 Agustus, ia mengklaim bahwa istri dari Benjamin Netanyahu tersebut terlibat dalam perilaku kekerasan verbal, penghinaan, serta menerapkan kondisi kerja yang tidak manusiawi dalam kurun waktu bertahun-tahun.

Dalam tuntutannya, Rami Ben Hamo, nama pekerja tersebut, menuduh Sara Netanyahu melontarkan penghinaan yang bersifat etnis dan memaksanya untuk tetap bekerja meskipun baru saja menjalani prosedur medis terkait masalah jantung yang serius.

Menurut laporan media Israel, Ben Hamo, yang telah bekerja di kediaman resmi Perdana Menteri selama lebih dari sepuluh tahun, menuntut ganti rugi sebesar 450.000 shekel. Tuntutan tersebut diajukan di Pengadilan Perburuhan Regional Yerusalem, menandai langkah hukum yang penting dalam masalah ketenagakerjaan di lingkungan pemerintah.

Tuntutan ini muncul hanya sebulan setelah pekerja lain di kediaman yang sama, Yehiel Ohev Ami, juga mengajukan gugatan terpisah mengenai kondisi kerja yang dialaminya.

Berdasarkan dokumen yang disampaikan, Ben Hamo bekerja di Kantor Perdana Menteri sebagai pekerja rumah tangga dari Maret 2023 hingga Desember 2025. Selama periode tersebut, ia mengaku mengalami perlakuan semena-mena dari istri Perdana Menteri secara rutin. Ia juga mengklaim terpaksa bekerja dengan jam yang tidak teratur dan dalam situasi yang melanggar ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.

Ben Hamo mengungkapkan bahwa hari kerjanya biasanya dimulai sekitar pukul 07.30 dan sering kali berakhir pada tengah malam atau bahkan dini hari. Ia mencatat bahwa ia rata-rata melakukan lembur antara 60 hingga 80 jam setiap bulannya, yang jelas melampaui batas waktu kerja yang wajar.

Ia menjelaskan bahwa jika tidak mengikuti instruksi Sara Netanyahu dengan tepat, ia akan menerima teriakan, penghinaan, dan berbagai bentuk perlakuan verbal yang merendahkan.

Dalam gugatannya, Ben Hamo merinci beberapa kejadian yang terkait dengan tugas-tugas rumah tangga yang diembannya. Ia mengklaim bahwa Sara Netanyahu memintanya untuk membersihkan tas pribadi dan bagian bawah sepatu miliknya dengan menggunakan tisu, sebuah permintaan yang dianggapnya sangat merendahkan.

Ia juga menyatakan bahwa ia harus mencuci tangan setiap kali memasuki rumah, dan di antara setiap pekerjaan yang dilakukannya, terkadang lebih dari sepuluh kali dalam sehari. Jika ia lupa melakukan instruksi tersebut, Ben Hamo mengklaim bahwa Sara Netanyahu akan bereaksi dengan teriakan dan hinaan yang keras.

Tuntutan ini bukan hanya mencerminkan masalah pribadi, tetapi juga menyoroti kondisi yang dihadapi oleh pekerja rumah tangga di lingkungan elit, yang sering kali terabaikan dalam hal perlindungan hak-hak mereka. Kasus ini dapat memicu perdebatan lebih lanjut mengenai perlindungan pekerja dan etika dalam hubungan antara majikan dan pekerja, terutama dalam konteks pemerintahan.

Di tengah sorotan media dan publik yang semakin meningkat, perkembangan kasus ini akan menjadi perhatian banyak pihak, terutama terkait bagaimana hukum akan menangani tuduhan serius mengenai perlakuan yang tidak manusiawi terhadap pekerja. Ini juga bisa menjadi titik balik penting untuk diskusi yang lebih luas mengenai standar etika dan moral di kalangan elit politik, serta dampaknya terhadap masyarakat yang lebih luas.

Dengan demikian, situasi yang dihadapi Ben Hamo tidak hanya merupakan masalah individu, tetapi juga sebuah cerminan dari tantangan sistemik yang dihadapi oleh banyak pekerja di sektor domestik. Kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap individu, terlepas dari status sosialnya, berhak atas perlakuan yang adil dan manusiawi di tempat kerja.

➡️ Baca Juga: Prabowo: NU dan Muhammadiyah Sebagai Aset Berharga untuk Kemajuan Bangsa

➡️ Baca Juga: Mengelola Aplikasi iPhone untuk Meningkatkan Konsentrasi Saat Bekerja dengan Efektif

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k