bisnis

Indonesia Siap Membangun PLTN, Kalimantan Barat dan Bangka Belitung Jadi Prioritas

Indonesia telah menunjukkan kesiapan awal untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), dengan dukungan dari berbagai elemen seperti sumber daya, regulasi, serta kemampuan sumber daya manusia. Namun, tantangan yang dihadapi adalah mengintegrasikan semua kesiapan ini ke dalam sebuah program nasional yang terarah dan terkoordinasi.

Sripeni Inten Cahyani, anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), menyatakan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki banyak komponen yang diperlukan untuk memulai pengembangan energi nuklir. Sayangnya, potensi tersebut belum terorganisir menjadi langkah-langkah yang terintegrasi dan sistematis.

“Kita memiliki sumber daya yang dibutuhkan, tetapi belum ada konsolidasi maupun penandaan bahwa kita sudah memulai. Oleh karena itu, perlu dibentuk sebuah task force,” ungkap Sripeni dalam keterangan yang diterima di Jakarta pada Senin, 12 Oktober 2026.

Dia menekankan pentingnya pembentukan tim khusus yang bisa mengkoordinasikan berbagai sumber daya dan institusi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Dengan adanya task force, pengembangan energi nuklir diharapkan bisa lebih terarah dan pelaksanaannya menjadi lebih jelas.

Pengembangan PLTN menjadi fokus utama dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia di masa depan, terutama di tengah meningkatnya permintaan listrik yang sejalan dengan pertumbuhan sektor industri dan ekonomi digital.

Sripeni mengidentifikasi Kalimantan Barat dan Bangka Belitung sebagai dua lokasi yang menjanjikan untuk pengembangan PLTN. Namun, pemilihan lokasi untuk pembangkit tidak hanya dapat didasarkan pada ketersediaan lahan atau aspek teknis semata.

Faktor kebutuhan listrik di setiap wilayah juga harus menjadi pertimbangan penting, terutama untuk mendukung pertumbuhan kawasan industri dan kegiatan ekonomi yang membutuhkan pasokan energi dalam jumlah yang besar.

Menurut Sripeni, pengembangan energi nuklir harus selaras dengan proyeksi kebutuhan listrik nasional yang akan datang. Diperkirakan, permintaan energi tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga dari sektor industri, kawasan ekonomi, pusat data, dan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Pertumbuhan sektor-sektor ini menegaskan pentingnya rencana jangka panjang untuk pembangkit listrik. Oleh karena itu, pengembangan energi nuklir perlu mempertimbangkan kapasitas pembangkit serta kebutuhan energi secara berkelanjutan.

Salah satu teknologi yang patut dipertimbangkan adalah Small Modular Reactor (SMR), yakni reaktor nuklir yang berukuran kecil dan modular. Teknologi ini dianggap relevan untuk memenuhi kebutuhan listrik tertentu, termasuk di kawasan industri atau wilayah yang membutuhkan pasokan energi besar dengan karakteristik khusus.

➡️ Baca Juga: Desta Peluk Erat Vincent Rompies Setelah Tinggalkan Vindes, Momen Menyentuh Hati

➡️ Baca Juga: Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, John Herdman Pantau Eks Timnas Belanda untuk Timnas Indonesia

Related Articles

Back to top button
kpkgg