religi

Mengelola Emosi di Bulan Ramadhan: Pesan Quraish Shihab untuk Meningkatkan Pahala Puasa

Ramadhan sering dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menguji sejauh mana seseorang mampu mengendalikan diri. Tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga maghrib, tetapi juga mengelola gejolak emosi yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, kemampuan untuk mengelola emosi, terutama amarah, menjadi salah satu indikator kualitas puasa yang dijalani.

Muhammad Quraish Shihab, seorang pakar tafsir Al-Qur’an terkemuka di Indonesia, menekankan bahwa kemarahan bukanlah emosi yang perlu dihilangkan, melainkan harus dikelola dengan baik agar tidak berujung pada tindakan yang dapat menyakiti orang lain.

Pesan tersebut disampaikan oleh beliau dalam kajian yang bertajuk “Marah dan Batasannya” dalam program Ramadhan Tafsir Al-Misbah yang dapat disaksikan di kanal YouTube Pusat Studi Al-Qur’an. Menurutnya, puasa sejatinya berfungsi sebagai pelatihan untuk menahan berbagai dorongan dasar, termasuk dorongan untuk melampiaskan amarah ketika merasa tersinggung atau diperlakukan tidak adil.

Quraish Shihab menegaskan bahwa Islam tidak mengharuskan umatnya untuk menjadi makhluk yang tak memiliki emosi. Dalam kondisi tertentu, kemarahan bisa dianggap wajar, seperti saat melihat adanya kezaliman atau pelanggaran terhadap nilai-nilai agama. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut dengan bijak dan sadar.

“Marah itu diperbolehkan, asalkan dalam konteks yang tepat, seperti ketika menyaksikan ketidakadilan atau penghinaan terhadap nilai-nilai luhur agama,” ungkap Prof. Quraish. Namun, tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengatur energi negatif tersebut agar tidak menyebabkan kerusakan.

Prof. Quraish juga menggarisbawahi pentingnya adanya tingkatan dalam mengendalikan emosi. Beliau mengingatkan bahwa banyak individu yang langsung bereaksi secara verbal atau fisik saat marah, tanpa memberi diri mereka waktu untuk berpikir.

Beliau merekomendasikan urutan pengendalian emosi yang bijaksana. Langkah pertama, ketika amarah mulai muncul, usahakan agar ekspresi wajah tidak memperlihatkan kemarahan tersebut. Jika tidak bisa menahan ekspresi, maka langkah kedua adalah memastikan bahwa amarah tersebut tidak terucap dalam bentuk kata-kata.

“Jika terpaksa harus berbicara, pastikan ucapan tersebut tidak kasar dan tidak meninggalkan bekas yang mendalam di hati orang lain,” pesan penulis Tafsir Al-Misbah tersebut.

Ia mengajak umat untuk mencontoh sifat halim, yaitu kemampuan untuk menahan amarah demi memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki diri. Sifat ini, menurutnya, sangat sejalan dengan semangat Ramadhan yang dikenal sebagai bulan kesabaran dan pengendalian diri.

➡️ Baca Juga: Muhammad Anez Bergabung dengan Borneo FC, Fabio Lefundes Sebut Lini Serang Kini Lebih Variatif

➡️ Baca Juga: Xiaomi Pad 8 dan Pad 8 Pro Tampil di Geekbench: Bocoran Chipset dan Performa Terungkap

Back to top button
slot qris