Trump Perintahkan Lepas 172 Juta Barel Cadangan Minyak AS untuk Atasi Krisis Pasokan Global

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengambil langkah penting dengan memerintahkan pelepasan 172 juta barel dari cadangan minyak strategis nasional (Strategic Petroleum Reserve/SPR). Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap rencana Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) yang berencana untuk mengeluarkan 400 juta barel dari cadangan minyak darurat yang dimiliki oleh 32 negara anggotanya.
Pernyataan Trump menyebutkan bahwa keputusan untuk mengalirkan ratusan juta barel minyak ini diambil setelah harga minyak dunia melonjak ke tingkat tertinggi dalam beberapa hari terakhir. Lonjakan harga ini tidak terlepas dari ketegangan yang terjadi akibat konflik militer antara AS dan Israel dengan Iran, serta ketidakpastian yang melanda pasar terkait kestabilan pasokan energi global.
Menteri Energi AS, Christopher Wright, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi pelepasan cadangan energi yang dilakukan secara terkoordinasi oleh IEA dan negara-negara anggotanya. Proses pelepasan minyak ini direncanakan akan dimulai pada pekan depan dan diperkirakan akan berlangsung selama sekitar 120 hari ke depan.
Wright juga menegaskan, “Selama 47 tahun, Iran dan kelompok proksinya telah berupaya merugikan warga Amerika. Mereka telah memanipulasi situasi dan mengancam keamanan energi Amerika serta sekutunya. Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, periode tersebut akan segera berakhir,” ujar Wright dalam sebuah wawancara yang dilansir oleh media.
Cadangan minyak strategis AS disimpan di dalam gua-gua bawah tanah yang besar yang terletak di Texas dan Louisiana. Menurut data yang dirilis pemerintah, hingga pekan lalu, SPR menyimpan sekitar 415 juta barel minyak yang dapat dikeluarkan saat dibutuhkan.
Secara keseluruhan, IEA mencatat bahwa akumulasi cadangan minyak dari negara-negara anggotanya mencapai lebih dari 1,2 miliar barel. Ini menunjukkan komitmen global untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam sektor energi saat ini.
Meskipun pemerintah AS dan IEA telah sepakat untuk melepas cadangan strategis, harga minyak global tetap menunjukkan tren yang tinggi. Pada pembukaan perdagangan pada tanggal 12 Maret 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat sebanyak 7,5 persen, mencapai sekitar US$93,8 per barel. Ini setara dengan sekitar Rp1.585.717 dengan estimasi kurs Rp 16.910 per dolar.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent Crude juga mengalami kenaikan, yaitu sekitar 7,7 persen, mencapai level US$99,1 per barel. Lonjakan harga ini terjadi setelah serangan militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran hampir dua minggu lalu.
Ketegangan semakin meningkat ketika aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz hampir terhenti total. Selat ini merupakan salah satu jalur distribusi minyak yang paling penting di dunia, di mana sekitar 20 persen dari pasokan minyak global, atau sekitar 15 juta barel per hari, melintasi jalur tersebut.
➡️ Baca Juga: Hector Souto Menangis, Timnas Futsal Indonesia Melaju ke Final Piala Asia 2026
➡️ Baca Juga: Link Live Streaming Manchester United vs Fulham Liga Inggris Malam Ini Pukul 21.00 WIB




