Emas Terkoreksi Sementara oleh Ketidakpastian Ekonomi di Bawah Kebijakan Trump

Calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump menggandeng tangan istrinya Melania di Palm Beach County Convention Center, West Palm Beach, Florida, Amerika Serikat, Rabu (6/11/2024). Trump deklarasikan kemenangannya atas Kamala Harris dalam Pemilu AS. Foto: ANTARA

Qnews.co.id, JAKARTA – Analis Quotient Fund Indonesia Devin Emilian menyebut harga ETF GLD berada di USD245.70 dengan RSI 43.62, yang menunjukkan tren downward jangka pendek. Setelah mengalami rally panjang dan mencapai harga tertinggi USD2,748 per ons menjelang pemilu AS, harga emas terkoreksi pasca-kemenangan Donald Trump.

Faktor penguatan dolar AS, serta spekulasi bahwa Federal Reserve (Fed) akan memperlambat laju pemotongan suku bunga dengan kemungkinan penurunan, yang dapat menekan harga emas.

Bacaan Lainnya

“Selain itu, respons pasar terhadap kebijakan Fed yang akan disampaikan oleh Ketua Jerome Powell menjadi fokus penting untuk arah suku bunga selanjutnya,” papar Devin kepada Qnews.co.id, Kamis (7/11).

Menurut Devin, faktor momentum penurunan harga ETF GLD diakibatkan oleh pemilu AS dan kebijakan Trump. Kemenangan Trump telah memicu penguatan dolar AS, membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya dan menekan permintaan.

Kebijakan Trump yang pro-produksi energi dan kemungkinan peningkatan tarif pada impor dari China menambah ketidakpastian ekonomi global.

“Yang biasanya mendukung permintaan emas sebagai aset safe-haven, meskipun saat ini harga emas mengalami koreksi,” ujarnya.

Dalam konteks sejarah, tren emas pascapemilu cenderung menghadapi koreksi jangka pendek sebelum kembali rally dalam jangka panjang.

Untuk itu diperlukan penyesuaian pasar. Sejumlah investor biasanya melakukan profit-taking setelah emas mencapai level tertinggi.

Tren koreksi ini diperkirakan berlanjut dalam beberapa minggu ke depan, namun prospek jangka panjang tetap positif, didukung oleh faktor ketidakpastian ekonomi dan inflasi yang berpotensi menguatkan permintaan emas dalam portofolio sebagai aset pelindung.

Sementara itu, harga ETF SLV saat ini berada di USD28.43 dengan RSI 41.51, menunjukkan tren downward atau koreksi jangka pendek.

Perak, yang juga terpengaruh oleh penguatan dolar AS, terkoreksi sekitar 10% dari harga tertingginya. “Volatilitasnya lebih tinggi dibandingkan emas, meski pergerakannya sering kali sejalan dengan tren emas,” katanya.

Faktor momentum disebabkan oleh kebijakan ekonomi Trump. Jika ketegangan dagang antara AS dan China meningkat akibat kemungkinan tarif baru yang diperkenalkan oleh Trump, permintaan perak dapat terdorong karena perak sering berfungsi sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.

“Namun, penguatan dolar memberikan tekanan pada harga perak dalam jangka pendek,” katanya.

Ada pandangan bahwa perak mungkin memiliki performa lebih baik dibandingkan emas dalam jangka pendek, jika kebijakan Trump menciptakan inflasi tinggi dan kenaikan defisit AS.

“Hal itu dapat mendukung minat pada aset pelindung seperti perak,” paparnya.

Prospek fiskal yang tidak pasti di bawah Trump menjadikan perak sebagai aset pelindung yang menarik bagi investor. Sementara itu, dalam jangka pendek, koreksi harga diperkirakan tetap terjadi.

“Ketidakpastian pasca pemilu dan potensi ketegangan global dapat terus menopang minat terhadap perak sebagai aset pelindung,” ujarnya.

Berikutnya minyak (USO). Pergerakan harga ETF minyak USO berada pada harga USD74.54 dengan RSI 53.87, menunjukkan tren downward yang terus berlanjut.

Permintaan minyak melemah terutama dari China, dengan impor minyak mentah China turun selama enam bulan berturut-turut. China, sebagai importir minyak terbesar dunia, mencatat penurunan impor minyak sebesar 9% dibandingkan Oktober tahun lalu, menambah tekanan pada harga minyak secara global.

Kapasitas kilang yang berkurang di PetroChina serta lemahnya permintaan dari kilang independen turut membebani impor China dan berimbas pada pelemahan permintaan minyak dunia.

Faktor momentum terjadi akibat penurunan permintaan China yang disebabkan oleh kapasitas kilang PetroChina yang menurun, serta lemahnya margin pemrosesan kilang independen, memperburuk prospek permintaan minyak global.

“Hal itu mendorong OPEC dan IEA untuk menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak untuk 2024, sejalan dengan ekspektasi bahwa permintaan minyak dari China mungkin tetap lemah ke depannya,” katanya.

Kebijakan Trump berencana untuk meningkatkan produksi minyak dalam negeri dengan mengurangi regulasi di sektor energi AS, bisa mengarah pada peningkatan pasokan global dan tekanan lebih lanjut pada harga.

“Namun, potensi sanksi ketat terhadap Iran dan Venezuela di bawah kebijakan Trump dapat menurunkan pasokan global dan memberikan dorongan jangka pendek pada harga minyak,” ujarnya.

Faktor-faktor geopolitik, seperti ketegangan di Timur Tengah dan ancaman badai di Teluk Meksiko, juga dapat mendukung harga minyak secara temporer.

Dari paparan di atas, emas diketahui akan mengalami koreksi sementara, namun memiliki prospek jangka panjang yang positif, didukung oleh ketidakpastian ekonomi di bawah kebijakan Trump, potensi inflasi, dan tren sejarah pasca pemilu yang cenderung melihat rebound pada harga emas dalam jangka panjang.

Perak yang turut terkoreksi seperti emas menunjukkan potensi untuk menjadi aset lindung nilai yang menarik, terutama jika ketegangan perdagangan AS-China berlanjut. Volatilitasnya yang lebih tinggi bisa menjadikannya pilihan yang lebih kuat dalam jangka pendek di bawah kebijakan Trump.

Minyak tertekan oleh melemahnya permintaan China dan potensi peningkatan produksi minyak AS, meskipun risiko geopolitik seperti sanksi dan badai dapat memberikan dorongan sementara pada harga.

Analisis ini menunjukkan bahwa setiap komoditas memiliki pola dan tren unik yang dipengaruhi oleh faktor global, kebijakan terbaru di AS, serta dinamika permintaan di pasar utama seperti China.

“Faktor-faktor ini perlu diperhatikan oleh investor dalam menentukan strategi yang tepat di pasar komoditas saat ini,” pungkasnya.

Quotient Fund Indonesia adalah perusahaan konsulting keuangan global, berkantor pusat di Quotient Center Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dan dapat dihubungi di hotline 0811-1094-489

Pos terkait

Tinggalkan Balasan