Defisit APBN Capai Rp319 Triliun pada September 2026, Menkeu Suahasil Nyatakan Tetap Sesuai Rencana

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun 2026 masih berada dalam jalur yang telah direncanakan.
Hingga tanggal 30 September 2026, defisit yang tercatat mencapai Rp319 triliun, yang setara dengan 1,24 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Dalam perencanaan APBN 2026, defisit yang diharapkan adalah sebesar Rp689,1 triliun, yang merupakan 2,68 persen dari PDB.
“Ini menunjukkan bahwa kita on track. Pelaksanaan APBN memang dirancang untuk menciptakan defisit sejak awal,” ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa yang berlangsung di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada hari Jumat, 9 Oktober 2026.
“Jika kita melihat data dari bulan lalu, defisit pada bulan sebelumnya berada di angka 0,9 persen, dan kini per 30 September telah meningkat menjadi 1,24 persen. Kami memproyeksikan defisit akhir tahun akan mencapai 2,8 persen,” tambahnya.
Dari sisi pendapatan, negara telah berhasil menghimpun Rp2.341,5 triliun hingga akhir September 2026.
Angka tersebut setara dengan 74,2 persen dari target APBN dan menunjukkan pertumbuhan sebesar 25,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Penerimaan dari sektor perpajakan menyumbang Rp1.847,7 triliun, yang merupakan 68,6 persen dari target APBN. Realisasi ini mengalami peningkatan 21,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Penerimaan perpajakan terdiri dari total penerimaan pajak sebesar Rp1.607,6 triliun, yang telah mencapai 68,2 persen dari target APBN dan tumbuh 24,1 persen dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai mencapai Rp240,1 triliun, yang setara dengan 71,5 persen dari target yang ditetapkan. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 8,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga menunjukkan kinerja yang positif. Hingga 30 September 2026, penerimaan PNBP telah mencapai Rp492,3 triliun, yang setara dengan 107,2 persen dari target APBN, dengan pertumbuhan sebesar 41,7 persen secara tahunan.
Belanja negara juga menunjukkan angka yang signifikan, tercatat mencapai Rp2.660,5 triliun.
Dari sisi pengeluaran, realisasi belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun. Jumlah ini setara dengan 69,2 persen dari pagu APBN 2026 dan meningkat 19 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Belanja Pemerintah Pusat (BPP) menyerap Rp2.061,3 triliun, yang merupakan 65,4 persen dari pagu APBN. Realisasi belanja di sektor ini mengalami pertumbuhan sebesar 29,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara rinci, belanja untuk kementerian dan lembaga (K/L) mencapai Rp1.069,4 triliun, yang setara dengan 70,8 persen dari pagu dan tumbuh 33,5 persen secara tahunan.
Sementara itu, belanja non-kementerian dan lembaga (non-K/L) tercatat sebesar Rp991,9 triliun. Realisasi ini setara dengan 60,5 persen dari pagu APBN dan menunjukkan pertumbuhan 25,7 persen dibandingkan dengan tahun lalu.
➡️ Baca Juga: Teknologi FSR di Konsol Apakah Beneran Bisa Turunin Temperature Konsol? Ini Faktanya!
➡️ Baca Juga: Berita Olahraga Terbaru Nasional dan Internasional yang Paling Banyak Dibaca Saat Ini




