Berita

Aksi Black September: Keamanan Nasional Terjaga Berkat Kapabilitas Polri

Jakarta – Analis politik dan isu intelijen, Boni Hargens, mengungkapkan bahwa isu yang dikenal sebagai Aksi Black September tidaklah mengejutkan. Menurutnya, fenomena ini bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba tanpa latar belakang yang jelas. Ia menyatakan bahwa bulan September memiliki resonansi emosional dan politik yang sangat kuat dalam konteks sejarah bangsa Indonesia.

Boni menjelaskan bahwa bulan September kaya akan momen-momen bersejarah yang signifikan bagi Indonesia, sehingga memunculkan daya tarik bagi kelompok tertentu untuk memanfaatkan situasi ini. Pernyataan tersebut disampaikan saat wawancara dengan wartawan di Jakarta, pada Jumat, 18 September 2026.

Lebih lanjut, Boni Hargens menegaskan bahwa banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia terjadi pada bulan September, membuatnya menjadi simbol yang rentan untuk dieksploitasi demi kepentingan tertentu.

Sebagai contoh, ia menyebutkan Tragedi Semanggi II yang terjadi pada 24 September 1999. Peristiwa tersebut merupakan aksi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa yang menolak Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB). Tindakan tersebut direspons secara represif oleh aparat, mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, termasuk Yap Yun Hap dari Universitas Indonesia.

Boni Hargens juga menyoroti kemungkinan bahwa para dalang di balik aksi ini akan memanfaatkan konteks historis untuk memberikan legitimasi atau dampak mengejutkan terhadap rencana mereka. Ia berpendapat bahwa penamaan “Black September” sengaja dirancang untuk membangkitkan kecemasan di kalangan publik dan menciptakan tekanan psikologis yang melebihi skala aksi yang sebenarnya.

Boni kemudian menyampaikan dua alasan utama mengapa masyarakat sebaiknya tidak terjebak dalam kecemasan yang berlebihan terkait wacana ini.

Pertama, ia menekankan bahwa aparat keamanan telah memiliki pengalaman yang cukup baik. Polri, bersama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), telah menunjukkan rekam jejak yang solid dalam menangani kerusuhan politik.

Kedua, Boni mengingatkan bahwa rasa takut justru dapat memperkuat gerakan itu sendiri. Ketakutan yang berlebihan terhadap wacana Aksi Black September dapat menjadi bagian dari strategi untuk mendestabilisasi yang diinginkan oleh para pelaku aksi tersebut.

Wacana mengenai Aksi Black September adalah fenomena yang perlu dipahami secara proporsional. Hal ini tidak seharusnya diabaikan sepenuhnya, tetapi juga tidak perlu dibesar-besarkan hingga menciptakan kecemasan sosial yang kontraproduktif.

“Walaupun isu ini memanfaatkan momen bersejarah, itu bukanlah indikasi akan adanya ancaman yang tidak dapat diatasi. Percayalah, Polri, BIN, dan TNI memiliki kapabilitas dan pengalaman yang telah teruji dalam menjaga keamanan nasional,” tuturnya.

➡️ Baca Juga: Menstruasi Tak Teratur di Usia 40 Tahun: Pahami Anovulasi dan Dampaknya

➡️ Baca Juga: Habib Bahar bin Smith Menentang Challenge Surat Ad-Dhuha Berhadiah Miras dan Geruduk TSP

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k