Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah Dorong Pergerakan Tajam Aset Safe Haven

Pasar komoditas global saat ini berada di bawah tekanan signifikan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan balasan Iran terhadap Israel. Foto: Quotient Fund Indonesia

Qnews.co.id, JAKARTA – Analis Quotient Fund Indonesia Devin Emilian mengungkapkan pasar komoditas global saat ini berada di bawah tekanan signifikan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan balasan Iran terhadap Israel.

“Ketidakpastian yang dihasilkan dari situasi itu telah mendorong pergerakan tajam pada harga aset safe haven seperti emas dan perak, serta harga minyak mentah,” kata Devin kepada Qnews.co.id, Rabu (2/10).

Bacaan Lainnya

Ketiga komoditas itu menunjukkan tren kenaikan, didorong oleh kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan minyak global dan memperburuk ketidakstabilan pasar.

Untuk emas (GLD), pergerakan harga emas dunia melonjak hampir 2% mencapai USD2.662,82 per troy ons, sebelum stabil di USD2.659,19 per troy ons.

“Lonjakan itu dipicu meningkatnya permintaan aset safe haven setelah serangan balasan Iran terhadap Israel, yang memicu ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah,” katanya.

Harga saat ini berada di USD245,61 dengan kenaikan +1,05%. Tren harga menunjukkan kenaikan kuat, dengan harga yang terus bertahan di atas rata-rata pergerakan (moving averages). Saat ini, GLD mendekati level konfluensi Fibonacci, memperkuat momentum bullish.

Momentum penguatan emas, beber Devin, didorong oleh ketakutan akan eskalasi perang besar di Timur Tengah, di mana investor global cenderung mencari perlindungan pada aset-aset safe haven seperti emas.

“Tekanan geopolitik itu meningkatkan permintaan emas, sehingga memicu lonjakan harga,” terangnya.

Selama ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus berlanjut, harga emas akan tetap berada dalam tren naik. Namun, indikator RSI menunjukkan bahwa harga hampir berada di wilayah overbought (66,72), yang bisa memicu koreksi kecil sebelum melanjutkan tren kenaikan lebih lanjut.

“Level support berada disekitar USD240, sementara resistensi psikologis ada disekitar USD248,” papar Devin.

Untuk perak (SLV), pergerakan harga biasanya mengikuti pergerakan emas sebagai aset safe haven.

Pada 2 Oktober 2024, harga SLV berada di USD28,58 (+0,60%). Tren harga sebelumnya menunjukkan pembalikan dari tren turun, setelah SLV keluar dari channel menurun.

“Namun, candle terbaru berwarna merah, yang menandakan adanya potensi pullback atau konsolidasi dalam jangka pendek sebelum perak melanjutkan kenaikan lebih lanjut,” ujar Devin.

    Kenaikan harga perak masih didukung oleh momentum yang serupa dengan emas, di mana meningkatnya ketegangan geopolitik memicu permintaan terhadap logam mulia.

    “Permintaan yang kuat untuk perak sebagai alternatif safe haven tetap ada, namun candle merah menunjukkan adanya kemungkinan aksi ambil untung atau sedikit koreksi sebelum momentum bullish berlanjut,” paparnya.

    Meskipun candle merah menunjukkan potensi koreksi kecil, pembalikan tren secara umum masih bullish. Support berada di sekitar USD27, sementara resistensi disekitar USD30. RSI menunjukkan angka 57,91, menandakan bahwa kenaikan harga masih memiliki ruang untuk berlanjut, tetapi mungkin ada sedikit konsolidasi sebelum perak melanjutkan tren naik.

    Untuk Minyak (USO), harganya melonjak lebih dari 2% dengan harga Brent mencapai USD73,56 per barel dan WTI naik menjadi USD69,83 per barel.

    “Kenaikan itu didorong oleh serangan balasan Iran terhadap Israel, yang meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah, wilayah yang kaya energi dan menjadi penentu utama pasar minyak global,” kata Devin.

    Selain itu, sebelum serangan terjadi, pasar minyak sempat berada di posisi terendah dalam dua minggu akibat prospek peningkatan pasokan dan lemahnya permintaan global.

    “Namun, berita serangan tersebut langsung mendorong harga minyak kembali naik secara signifikan,” ungkap Devin.

    USO saat ini berada di USD72,11 (+3,13%) dan menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah keluar dari pola descending, yang biasanya menandakan potensi pembalikan tren ke atas.

    “Hal ini memperkuat momentum bullish bagi USO di tengah ketidakpastian pasar minyak,” tegasnya.

      Faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak adalah kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah. Iran, sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia, menjadi salah satu faktor risiko terbesar di pasar.

      Analis politik independen Clay Seigle memperingatkan jika serangan Israel terhadap Iran meluas, aset minyak Iran, yang menghasilkan sekitar 4 juta barel per hari, kemungkinan akan menjadi target, yang berpotensi menimbulkan gangguan pasokan minyak besar-besaran ke pasar global. Kekhawatiran itu telah memberikan dorongan tambahan pada harga minyak.

      Selain itu, ketidakpastian lainnya muncul dari peran Libya sebagai produsen minyak global, di mana potensi pemulihan produksi minyaknya dapat memberikan tekanan pada pasar minyak. Namun, konflik di Timur Tengah masih mendominasi kekhawatiran pasar.

      Prospek peningkatan produksi oleh OPEC+ yang dijadwalkan untuk bertemu juga menjadi perhatian pasar, di mana mulai Desember 2024, produksi global dapat meningkat sebesar 180 ribu barel per hari.

      “Meskipun demikian, kekhawatiran gangguan pasokan yang lebih besar dari kawasan Timur Tengah menutupi sentimen peningkatan produksi ini, memberikan dorongan lebih lanjut pada harga minyak,” kata Devin.

      USO diperkirakan akan terus bergerak naik selama ketegangan geopolitik di Timur Tengah berlangsung. Jika eskalasi konflik terjadi, dan Israel memperluas serangannya terhadap Iran, gangguan pasokan minyak dari negara-negara besar di kawasan tersebut bisa semakin parah.

      Selain itu, proksi Iran, seperti kelompok Houthi di Yaman, dapat meluncurkan serangan ke infrastruktur minyak di Arab Saudi, meningkatkan risiko gangguan lebih lanjut di pasar energi global,” terangnya.

      Level support untuk USO berada disekitar USD68, sementara harga saat ini sedang menguji resistensi di sekitar USD73,65. Namun, RSI berada di angka 50,65, menunjukkan adanya kemungkinan konsolidasi jangka pendek sebelum harga melanjutkan tren naiknya.

      Secara keseluruhan, ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah telah memicu kenaikan signifikan pada harga komoditas utama seperti emas, perak, dan minyak.

      Emas (GLD) dan perak (SLV) mengalami peningkatan karena peran mereka sebagai aset safe haven, sementara minyak (USO) melonjak akibat kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan dari produsen minyak utama seperti Iran.

      “Meskipun indikator teknikal menunjukkan potensi konsolidasi jangka pendek, tren kenaikan untuk ketiga komoditas ini diperkirakan akan berlanjut selama ketidakpastian geopolitik tetap tinggi,” pungkasnya.

      *Quotient Fund Indonesia adalah perusahaan konsultasi keuangan global yang berbasis di Jakarta Selatan. Perusahaan ini menawarkan analisis pasar yang mendalam serta solusi investasi strategis untuk klien di seluruh Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi hotline kami di 0811-1094-489.

      Pos terkait

      Tinggalkan Balasan