Lagi, Emas All-Time High Pertanda Aneh dan Sulit Dijelaskan

Harga emas diperkirakan akan terus naik, mungkin mencapai USD3000 sebelum Natal. Foto: Quotient Fund Indonesia

Qnews.co.id, JAKARTA – Analis Quotient Fund Indonesia Regen Lee mengaku bingung dengan bull run emas (GLD)
 yang terjadi saat ini. Menurutnya hal itu sangat aneh dan sulit dijelaskan.

Beberapa teori, kata Regen, seperti pembelian rahasia oleh pemerintah atau spekulasi Tiongkok telah dibantah oleh data.

Bacaan Lainnya

“Setelah pembelian fisik emas besar-besaran oleh Tiongkok di awal tahun, spekulan Tiongkok membeli dalam jumlah besar di bursa dan OTC, mendorong harga naik,” ujar Regen kepada Qnews.co.id di Jakarta, Jumat (27/9).

Pasar yang dipimpin oleh derivatif telah menciptakan reli yang terpenuhi dengan sendirinya. Permintaan emas di India, Timur Tengah, dan Eropa menurun, sementara di AS dan Inggris, perdagangan fisik tetap lemah.

“Pasar emas saat ini tidak terpengaruh oleh indikator normal dan meskipun overbought, harga emas diperkirakan akan terus naik, mungkin mencapai USD3000 sebelum Natal,” paparnya.

Sementara itu harga perak (SLV)
telah mencapai level tertinggi dalam hampir 12 tahun. Hal itu, kata Regen, didorong oleh pemotongan suku bunga bank sentral dan stimulus dari China.

Harga perak spot naik 0,6% menjadi USD32,03 per ons, sementara emas juga mencapai rekor baru.

“Kenaikan harga perak lebih dari 35% tahun ini sebagian besar didorong oleh permintaan industri dan korelasi kuat dengan emas,” jelas Regen.

Ia menambahkan, “Rasio emas-perak turun, menunjukkan nilai perak relatif terhadap emas.”

Hal berikutnya, Federal Reserve AS memangkas suku bunga, telah meningkatkan daya tarik emas. “Investor menunggu data ekonomi penting yang akan dirilis. Logam lain seperti platinum dan paladium juga mengalami kenaikan harga,” terang Regen.

Komoditas minyak (USO)
telah turun lebih dari 2% karena rumor bahwa Arab Saudi akan meningkatkan produksi minyak dan melepaskan target harga USD100 per barel.

“Laporan Financial Times menyebutkan OPEC+ akan meningkatkan produksi pada bulan Desember,” katanya.

Penurunan harga minyak juga dipengaruhi oleh laporan bulanan OPEC+ yang menunjukkan penurunan prospek pertumbuhan permintaan.

Arab Saudi, yang telah memompa 9 juta barel per hari selama lebih dari setahun, harus menerima kenyataan bahwa harga minyak yang lebih rendah untuk mendapatkan kembali pangsa pasar.

*Quotient Fund Indonesia adalah perusahaan consulting keuangan global, berkantor pusat di Quotient Center Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dan dapat dihubungi di hotline 0811-1094-489

Pos terkait

Tinggalkan Balasan