Qnews.co.id, JAKARTA – Analis Quotient Fund Indonesia, Devin Emilian mengungkapkan pergerakan di pasar komoditas saat ini berada dalam sorotan. Menurutnya, konflik di Timur Tengah menjadi faktor kunci yang mempengaruhi naiknya harga minyak tersebut.
“Contohnya minyak, perak, dan emas mengalami pergerakan signifikan di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat,” ujar Devin kepada Qnews.co.id, Jumat (4/10).
Selain itu, tren permintaan global, baik sebagai aset lindung nilai maupun kebutuhan industri, semakin mendorong kenaikan harga di berbagai sektor.
Saat ini, pergerakan harga minyak USO telah berhasil keluar dari pola downtrend, menandakan adanya pembalikan tren ke arah atas. Saat ini, harga berada di sekitar USD75,73, mencerminkan kenaikan sebesar 4,08%.
Minyak telah melewati level resistensi kunci di sekitar USD73 dan berada di atas rata-rata bergerak (moving averages). “Ini menegaskan bahwa tren jangka pendek hingga menengah mengarah ke atas,” katanya.
Momentum kenaikan minyak didorong oleh ketegangan geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah, khususnya konflik antara Israel dan Iran.
Iran telah memperingatkan bahwa jika kilang minyak mereka ditargetkan oleh AS atau sekutunya, mereka tidak segan-segan untuk membakar semua sumur dan kilang minyak di Timur Tengah.
“Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran signifikan tentang pasokan minyak global,” kata Devin.
Analis memperkirakan harga minyak bisa menembus USD100 per barel jika Iran melancarkan aksi tersebut. Bahkan hingga USD200 dalam skenario terburuk jika jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz terganggu.
OPEC+ memiliki kapasitas cadangan minyak yang cukup besar, yang saat ini membantu menahan kenaikan harga yang lebih ekstrem. Namun, risiko dari konflik ini tetap tinggi.
“RSI pada grafik menunjukkan level 59,83, yang mengindikasikan bahwa harga minyak masih memiliki ruang untuk naik lebih lanjut sebelum mencapai zona jenuh beli (overbought).
Dalam jangka pendek, minyak berpotensi terus naik, terutama jika ketegangan di Timur Tengah tidak mereda. Prediksi bahwa harga minyak bisa mencapai USD100 hingga USD200 per barel menjadi lebih realistis jika konflik semakin meluas, terutama dengan ancaman Iran yang dapat menghancurkan infrastruktur minyak di Timur Tengah.
Meskipun begitu, kata Devin, volatilitas harga minyak diperkirakan akan terus meningkat seiring eskalasi risiko geopolitik.
Sementara itu, pergerakan harga perak (SLV) baru saja breakout dari pola tren menurun, yang merupakan sinyal bullish. Saat ini, harga berada di sekitar USD29,23 dan telah melewati level resistensi utama di USD28,79.
“Harga perak juga didukung oleh tren jangka menengah yang kuat karena bergerak di atas rata-rata bergerak (moving averages). Ini menunjukkan tren kenaikan yang kuat dalam waktu dekat,” kata Devin.
Momentum positif perak didorong oleh dua faktor utama: ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya permintaan industri.
Ketegangan di Timur Tengah telah mendorong permintaan perak sebagai aset lindung nilai (safe haven), sementara penggunaan perak di sektor industri terus meningkat, terutama di bidang teknologi dan energi terbarukan.
Permintaan dari pembuat koin dan unit industri juga menjadi faktor penting yang mendukung kenaikan harga perak. RSI berada pada level 62,24, mendekati zona jenuh beli, yang menandakan bahwa mungkin akan ada sedikit penurunan atau konsolidasi sebelum melanjutkan tren naiknya.
Dalam jangka pendek hingga menengah, prospek perak tetap positif dengan target kenaikan menuju USD30,32, level Fibonacci confluence yang signifikan.
“Namun, jika RSI mencapai level overbought, terlihat ada sedikit koreksi harga sebelum naik lebih tinggi,” katanya.
Jika ketegangan di Timur Tengah terus memanas, perak akan terus diminati sebagai aset safe-haven. Selain itu, peningkatan permintaan industri global, khususnya di bidang teknologi dan energi terbarukan, akan mendorong harga perak dalam jangka menengah hingga panjang.
Komoditas emas (GLD) juga menunjukkan tren naik yang stabil dalam beberapa minggu terakhir. Saat ini, emas diperdagangkan di sekitar USD245,49, dengan tren naik yang kuat didukung oleh tren yang meningkat.
Harga juga telah bergerak di atas rata-rata bergerak (moving averages), yang semakin mengonfirmasi kekuatan tren ini. Emas juga telah mendekati level resistensi kunci di USD249,35, yang merupakan level penting berdasarkan Fibonacci retracement.
Emas terus menarik minat sebagai aset safe-haven di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara Israel dan Iran, serta ancaman potensi serangan terhadap infrastruktur minyak Iran, telah membuat investor beralih ke emas sebagai tempat perlindungan dari risiko pasar.
Selain faktor geopolitik, data ekonomi AS, seperti laporan nonfarm payrolls (NFP), juga memainkan peran penting dalam pergerakan harga emas.
“Data tenaga kerja yang lemah dapat mendorong emas lebih tinggi, karena akan meningkatkan kemungkinan pemotongan suku bunga Fed yang lebih besar, yang menguntungkan aset non-yielding seperti emas,” papar Devin.
Bank-bank sentral di seluruh dunia juga terus mengakumulasi emas, yang memperkuat tren bullish jangka panjang. RSI menunjukkan level 66,26, mendekati zona jenuh beli, yang menandakan bahwa meskipun momentum masih positif, ada kemungkinan koreksi kecil atau konsolidasi harga sebelum tren naik berlanjut.
Sejauh ini, prospek emas dalam jangka pendek hingga menengah tetap sangat positif, terutama dengan adanya ketidakpastian geopolitik yang signifikan serta data ekonomi AS yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter.
Target resistensi berikutnya berada di sekitar USD249,35, dan jika ketegangan terus meningkat, emas dapat menembus level ini dan bergerak lebih tinggi. Karena RSI mendekati level overbought, ada potensi konsolidasi atau pullback sementara sebelum harga melanjutkan kenaikannya.
“Akumulasi emas oleh bank sentral juga telah memberikan dukungan kuat terhadap tren bullish jangka panjang,” paparnya.
Secara keseluruhan, prospek untuk minyak, perak, dan emas menunjukkan tren kenaikan yang kuat, didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan dinamika pasar global.
Harga minyak diperkirakan akan terus naik seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran yang memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan global, terutama jika infrastruktur penting atau jalur distribusi seperti Selat Hormuz terdampak.
Perak mendapat manfaat dari permintaan safe-haven serta peningkatan penggunaan industri, terutama di sektor teknologi dan energi terbarukan. Sementara itu, emas terus menarik minat sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik, didukung juga oleh akumulasi oleh bank sentral dan potensi perubahan kebijakan ekonomi di AS.
“Ketiga komoditas itu menunjukkan momentum positif dalam jangka pendek hingga menengah, meskipun sangat mungkin terjadi pullback sementara, akibat kondisi overbought,” tandasnya.
Quotient Fund Indonesia adalah perusahaan konsultasi keuangan global yang berbasis di Jakarta Selatan. Perusahaan ini menawarkan analisis pasar yang mendalam serta solusi investasi strategis untuk klien di seluruh Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi hotline kami di 0811-1094-489.