USO Tren Naik seiring OPEC+ Batasi Produksi hingga Konflik Timur Tengah

Arsip foto - Sebuah labirin pipa minyak mentah dan katup digambarkan selama tur oleh Departemen Energi di Cadangan Minyak Strategis di Freeport, Texas, AS 9 Juni 2016. Foto: ANTARA/REUTERS/Richard Carson.

Qnews.co.id, JAKARTA – Analis
Quotient Fund Indonesia Devin Emilian menjelaskan ETF GLD saat ini berada pada harga 252.83 dengan RSI 59.89. Ini memperlihatkan tren penurunan dan konsolidasi di sekitar level Fibonacci 253.

“Penurunan itu disebabkan oleh ketidakpastian seputar pemilu AS yang mendekat dan keputusan suku bunga Federal Reserve yang diantisipasi, yang biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai safe-haven,” kata Devin kepada Qnews.co.id, Selasa (5/11).

Bacaan Lainnya

Investor, kata Devin, mempertimbangkan kemungkinan inflasi lebih tinggi jika kebijakan proteksionis diterapkan. Hal itu terutama dalam skenario kemenangan Trump, yang akan memberi tekanan naik pada emas dalam jangka panjang.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya laporan intelijen Israel mengenai potensi serangan Iran dari Irak, juga menambah daya tarik emas sebagai aset perlindungan terhadap risiko.

“Konflik itu bisa memicu lonjakan harga emas dalam jangka pendek sebagai respons terhadap ketidakpastian yang meningkat,” terangnya.

Sementara itu, ETF SLV saat ini berada di 29.63 dengan RSI 50.46, menunjukkan tren menurun setelah mencapai konfluensi Fibonacci di sekitar 31.

“Pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran inflasi global, di mana investor memandang perak sebagai aset lindung nilai potensial,” paparnya.

Penurunan itu juga terkait dengan ketidakpastian pasar yang dipicu oleh pemilu AS dan ekspektasi kebijakan yang dapat mendorong inflasi, terutama jika proteksionisme diberlakukan.

“Di sisi lain, risiko geopolitik dan ketegangan politik AS telah menambah potensi bullish perak dalam jangka panjang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian global,” jelas Devin.

Adapun ETF
USO saat ini berada di 74.29 dengan RSI 53.39, memperlihatkan tren kenaikan hampir 3% seiring kenaikan harga minyak.

Faktor utama kenaikan itu adalah keputusan OPEC+ untuk menunda peningkatan produksi dan memperpanjang pemotongan produksi sebesar 2.2 juta barel per hari hingga akhir tahun.

“Penundaan itu menunjukkan kekhawatiran akan ketidakmampuan OPEC+ untuk mengembalikan pasokan sepenuhnya pada tahun 2025, dengan adanya potensi perang harga,” kata Devin.

Selain itu, produksi minyak Iran naik sebesar 250,000 barel per hari, sementara Libya mendekati produksi 1.5 juta barel per hari. Hal itu dapat menambah tekanan pada harga karena risiko kelebihan pasokan.

Inventaris minyak dan bensin AS saat ini berada di bawah rata-rata musiman dalam lima tahun, yang berarti peningkatan mendadak dalam permintaan akan mengganggu keseimbangan pasokan domestik dan meningkatkan volatilitas harga untuk USO.

Adapun China, sebagai salah satu importir minyak terbesar, juga mengalami penurunan permintaan tahunan hampir 7% pada September, memberikan tekanan bearish tambahan dalam jangka menengah.

“Selain itu, ada risiko cuaca dengan prakiraan badai tropis baru di Teluk Meksiko, yang dapat berdampak besar pada produksi minyak di kawasan tersebut,” katanya.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kata Devin, termasuk risiko konflik antara Israel dan Iran, menambah volatilitas dan risiko pasokan di pasar minyak global.

ETF GLD, SLV, dan USO menunjukkan fluktuasi yang mencerminkan kondisi global. GLD dan SLV bergerak dalam tren menurun, dipengaruhi oleh ketidakpastian pemilu AS, risiko inflasi, dan ketegangan geopolitik yang dapat mempengaruhi aset safe-haven.

Sementara itu, USO menunjukkan tren naik seiring dengan keputusan OPEC+ terkait pembatasan produksi, risiko cuaca di Teluk Meksiko, dan ketegangan Timur Tengah yang memengaruhi volatilitas harga.

Di sisi lain, permintaan yang melemah dari China dan risiko kelebihan pasokan dari Iran dan Libya berpotensi membatasi kenaikan lebih lanjut.

“Volatilitas tinggi akan terus membayangi pasar ini menjelang perkembangan lebih lanjut dari kebijakan ekonomi global dan ketegangan politik yang sedang berlangsung,” tandasnya.

Quotient Fund Indonesia adalah perusahaan konsulting keuangan global, berkantor pusat di Quotient Center Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dan dapat dihubungi di hotline 0811-1094-489

Pos terkait

Tinggalkan Balasan