Kesaksian Korban TPKS Eks Rektor UNUGO: Perlakuan Seperti Pelaku Saat Pemeriksaan Psikolog

Salah satu korban yang terlibat dalam kasus dugaan tindak pidana kekerasan seksual (TPKS) yang melibatkan mantan Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo (UNUGO), Amir Halid, membagikan pengalamannya yang menyakitkan saat menjalani pemeriksaan psikologis forensik. Pengalaman ini tidak hanya meninggalkan bekas yang mendalam, tetapi juga menambah tekanan psikologis yang sudah dialaminya.
Pengakuan tersebut muncul setelah Pengadilan Negeri Gorontalo memutuskan bahwa penghentian penyidikan kasus TPKS ini tidak sah dan batal demi hukum. Keputusan ini menjadi titik balik bagi korban untuk berbicara lebih terbuka mengenai proses hukum yang dialaminya.
Korban mengungkapkan bahwa pengalaman selama pemeriksaan psikologis forensik masih sangat membekas dalam ingatannya. Bahkan, rasa traumanya kembali muncul ketika ia menghadiri sidang praperadilan pada 2 September 2026, yang seharusnya menjadi langkah menuju keadilan.
Dalam persidangan tersebut, seorang psikolog menyampaikan hasil evaluasi psikologis yang menyatakan bahwa korban dinilai berlebihan dalam menggambarkan kondisinya, serta menunjukkan perilaku yang dianggap seduktif dan merayu berdasarkan cara berbicara dan penampilannya. Pernyataan ini jelas menimbulkan kekecewaan dan pertanyaan mendalam bagi korban.
“Saya sangat mempertanyakan hasil yang disampaikan oleh psikolog Riza Wahyuni. Selama pemeriksaan, saya berada dalam kondisi yang sangat tertekan. Saya merasa tidak ditanyai tentang pengalaman yang sebenarnya saya alami,” ungkap korban pada 10 September 2026.
Menurut korban, sebelum menjalani tes psikologi, ia justru dihadapkan pada berbagai tuduhan yang dinilai tidak ada kaitannya dengan kasus yang dihadapinya. Hal ini semakin memperburuk kondisinya yang sudah rentan.
Dari pengalaman itu, ia juga mengaku harus menjawab lebih dari 500 soal dalam keadaan penuh tekanan. Proses pemeriksaan berlangsung hingga larut malam, sementara ia adalah seorang ibu yang masih menyusui anaknya yang baru berusia tiga bulan.
“Saya diminta oleh Riza untuk menyelesaikan lebih dari 500 soal dalam kondisi stres. Pada saat itu, saya sudah berada di malam hari dan memikirkan anak bayi saya yang menunggu di rumah,” katanya dengan nada penuh emosi.
Korban kemudian mempertanyakan hasil pemeriksaan tersebut. Ia merasa bahwa Riza mengklaim hasil tesnya tidak terbaca dengan baik, namun tetap memberikan penilaian terhadap dirinya yang dirasa tidak adil.
Ia juga mengungkapkan keheranannya terhadap beberapa pertanyaan dan penilaian yang berkaitan dengan cara berpakaian serta interaksinya dengan Amir Halid. Hal-hal tersebut dianggapnya tidak relevan dengan pokok permasalahan yang ia hadapi.
Lebih lanjut, korban merasa sangat terganggu ketika psikolog tersebut menilai emotikon cium yang sering dikirimkan Amir Halid melalui pesan WhatsApp sebagai hal yang biasa. Penilaian ini menunjukkan kurangnya pemahaman tentang konteks dan dampak dari tindakan tersebut.
“Saya merasa diperlakukan seperti pelaku, bukan korban. Psikolog tersebut mengkritik cara berpakaian saya, bahkan menyalahkan jilbab yang saya kenakan karena tidak menutupi seluruh bagian dada. Dia bahkan meminta saya untuk menjulurkan jilbab. Pengalaman ini membuat saya masih trauma,” jelasnya dengan nada penuh keprihatinan.
Pengalaman yang dialami korban ini mencerminkan betapa pentingnya pendekatan yang sensitif dan profesional dalam menangani kasus-kasus kekerasan seksual. Perlakuan yang tidak adil tidak hanya berpotensi memperburuk kondisi psikologis korban, tetapi juga dapat menghambat proses pencarian keadilan.
Kisah ini menjadi pengingat bagi semua pihak, terutama para profesional di bidang kesehatan mental, untuk memperlakukan korban dengan rasa empati dan menghormati pengalaman mereka. Pendekatan yang lebih manusiawi dalam menangani kasus TPKS sangat diperlukan agar korban tidak merasa tertekan dan lebih berdaya dalam menghadapi proses hukum.
➡️ Baca Juga: Real Madrid Target Rodri Hernandez as Alternative Option Besides Vitinha
➡️ Baca Juga: Sandbox iOS itu apa sih yang bikin systemnya gak pernah nge-lag kayak Android




