Hilirisasi Mendorong Nilai Tambah Ekonomi Indonesia, Temukan Penghambatnya Menurut Peneliti CORE

Jakarta – Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa hilirisasi memiliki potensi besar dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. Namun, ia menggarisbawahi bahwa sebagian besar proses hilirisasi yang berlangsung saat ini masih terjebak pada produk antara, seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel, yang digunakan dalam industri baja nirkarat.
“Hilirisasi ini seharusnya menjadi pijakan untuk industrialisasi, tetapi tidak cukup hanya sampai di sini,” jelasnya pada Senin, 5 Oktober 2026.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa langkah berikutnya yang perlu diambil adalah memperpanjang rantai produksi hingga mencakup prekursor, katoda, sel baterai, dan proses manufaktur akhir yang melibatkan lebih banyak pemasok lokal.
Salah satu contoh nyata dari hilirisasi ini dapat ditemukan dalam sejumlah proyek yang dikembangkan oleh Vale Indonesia, yang beroperasi di bawah Holding Pertambangan Indonesia, MIND ID.
Proyek-proyek yang mereka jalankan telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan peraturan Menteri Koordinator Perekonomian. Hal ini menunjukkan bahwa proyek tersebut mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak, karena diyakini akan menjadi fondasi bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Yusuf juga menjelaskan bahwa Vale Indonesia Tbk sedang mengembangkan beberapa proyek hilirisasi nikel berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.
Ketiga proyek tersebut memiliki kapasitas produksi gabungan sekitar 240.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun. PT Vale juga mengungkapkan bahwa program investasi strategisnya di Indonesia mencapai sekitar 7,2 miliar USD.
Di Pomalaa, proyek HPAL ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan Ford Motor Co. dan Zhejiang Huayou Cobalt, yang dioperasikan oleh PT Kolaka Nickel Indonesia, dengan total investasi mencapai 4,5 miliar USD. Proyek ini direncanakan untuk memproduksi hingga 120.000 ton nikel terkandung dalam MHP setiap tahunnya.
Yusuf menilai bahwa proyek Vale ini sangat signifikan karena menawarkan pendekatan hilirisasi yang berbeda dibandingkan dengan pengolahan nikel yang umumnya digunakan untuk industri baja nirkarat.
Teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) ini memungkinkan pengolahan bijih limonit dengan kadar rendah menjadi bahan baku nikel kelas satu yang dibutuhkan untuk baterai kendaraan listrik.
“Dengan demikian, proyek ini tidak hanya memperluas pemanfaatan sumber daya, tetapi juga membuka akses ke rantai pasok global yang lebih beragam. Namun, MHP tetap merupakan produk antara. Dampak terhadap industrialisasi di Indonesia akan lebih signifikan jika MHP ini diproses lebih lanjut menjadi prekursor, katoda, dan sel baterai,” tuturnya.
➡️ Baca Juga: Latihan Gym Dalam Ruangan Desember: Solusi Nyaman Saat Hujan Berkelanjutan
➡️ Baca Juga: Chip AI Meningkat Pesat, SK Hynix Catat Laba dan Pendapatan Tertinggi dalam Sejarah




